dwi anggia and the world in the mirror
share everything you get with love, you'll get everything full of love..
Rabu, 19 Juni 2013
Kamis, 14 Maret 2013
Surat Komite Etik KPK & Sprindik Anas
"Jangan takut kalau hanya dipanggil KPK. Kenapa harus takut dipanggil KPK. Takut itu kalau dipanggil Tuhan". Ini seloroh Sutan Bathoegana, diruang Make Up TvOne, Rabu 13 Maret 2013. Saat itu saya sedang persiapan untuk Program Meja Bundar, Bang Sutan kebetulan diundang di Kabar Petang.
Kalimat ini keluar dari mulutnya begitu melihat saya. Memang, dua pekan lalu tepatnya Rabu 6 Maret 2013, saya memenuhi panggilan Komite Etik KPK terkait bocornya sprindik Anas Urbaningrum.
Surat undangan dari KPK itu saya terima sehari sebelumnya. Selasa 5 Maret, seorang wanita dari sekretariat KPK menelpon saya dan menanyakan no.fax kantor, untuk mengirim undangan.
Apahal?. Masih tak jelas, sampai akhirnya saya terima sendiri fax dari KPK itu.
Kurang lebih isinya meminta kehadiran saya ke Gedung KPK untuk mengkonfirmasi beberapa hal. Jadilah Rabu siang saya didampingi Wapemred TvOne, mendatangi gedung KPK. Tepat pukul satu, saya masuk keruang kerja salah satu pimpinan. Sudah ada didalamnya kelima anggota Komite Etik KPK serta dua orang notulen.
Ada banyak detail yang tidak bisa saya sebutkan. Perbincangan siang itu sangat santai.Jauh dari yang ada dibenak saya, jika seseorang dipanggil oleh KPK. Namun enam jam itu sangat melelahkan. Saya juga harus akui sedikit menegangkan.
Baik...kita tinggalkan perkara pemeriksaan oleh Komite Etik KPK, yang menjadi penekanan saya disini adalah mengenai substansi. Ada banyak pertanyaan yang datang ke saya, terkait pemeriksaan ini. "Kenapa lo dipanggil?. Lo bocorin sprindik? Ah..ga mungkin Anggi dipanggil, salah kali. Siapa dia?".
Beragam reaksi memang.
Saya hanya ingin menekankan, bahwa tidak ada info apapun, tidak ada bocoran surat atau draft sprindik yang salah peroleh dari internal KPK. Baik itu dari pimpinan ataupun dari pegawai KPK lainnya. Saya datang memenuhi panggilan Komite Etik KPK, menjalankan tugas sebagai warga negara yang baik,mungkin saya ada informasi atau klarifikasi yang bisa membantu penyelesaian masalah bocornya sprindik KPK. Sehingga Komite Etik bisa memperoleh informasi yang cukup untuk menghasilkan suatu putusan atau rekomendasi. Karena adalah nasib seseorang, nama baik seseorang dan kredibilitas seseorang yang dipertaruhkan disini. Sudah sewajarnya Komite Etik berhati hati dalam melakukan tugasnya.
Saya hanya menyayangkan sejumlah pihak yang langsung menyimpulkan atau men-justifikasi bahwa dengan hadirnya saya memenuhi panggilan Komite Etik KPK, berarti saya terlibat dalam pembocoran sprindik.
Masih ada banyak cerita yang menanti... :)
Terimakasih.
Selasa, 12 Maret 2013
Surat Pembaca Untuk Majalah Tempo
Pengalaman buruk yang saya alami dengan Majalah Tempo. Sebelum saya tampilkan surat pembaca versi saya (yang tidak diedit Tempo), saya ingin menjelaskan sedikit kronologis munculnya surat protes saya pada majalah Tempo.
Pada Jumat 1 Maret 2013, saya ditelpon oleh redaktur Tempo, ia mengatakan akan membuat tulisan soal Anas Urbaningrum. Kebetulan saya mewawancarai Anas Urbaningrum, sebelum dan sesudah ia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Redaktur Tempo ini kemudian menanyakan bagaimana kondisi saat dikediaman AU, saat saya mewawancarai di Duren Sawit.
Redaktur tersebut kemudian mulai bertanya perihal foto / (lukisan) Kiyai Ali Maksum yang dipajang sebagai latar belakang saat saya berdialog dengan Anas. Redaktur Tempo ini kemudian bertanya, apakah disetting demikian? .
Saya menjelaskan, bahwa untuk lokasi, memang kami, pihak TvOne yang memilih, sementara properti lainnya disediakan oleh tuan rumah. Posisi foto yang ada dibelakang Anas memang sudah disediakan begitu adanya. Saat wawancara pertama dengan Anas memang ada permintaan untuk meletakan lukisan sebagai latar, karena wawancara kami lakukan diluar ruangan, didekat Pendopo.
Sementara untuk wawancara saya yang kedua kalinya dengan AU (setelah berhenti menjabat Ketum PD), tidak ada permintaan dari AU memajang lukisan Kyai Ali Maksum.
Sementara untuk wawancara saya yang kedua kalinya dengan AU (setelah berhenti menjabat Ketum PD), tidak ada permintaan dari AU memajang lukisan Kyai Ali Maksum.
Penjelasan saya sampaikan ke Redaktur Tempo, dan berulang kali saya sebutkan ini off the record. Saat itu saya juga mengatakan, saya harus konfirmasi terlebih dahulu dengan pimpinan saya, apakah diperbolehkan share info seperti ini ke Tempo. Akhirnya saya diijinkan untuk menceritakan keadaan apa adanya seperti yang tertulis diatas.
Redaktur Tempo kemudian bertanya via bbm, "sudah ada kabar"?. Kemudian saya kabari, bahwa cerita ini boleh ditulis, namun saya mengingatkan kembali, bahwa saya tidak berkenan jika nama saya dicantumkan dalam tulisan Tempo.
Namun fakta yang terjadi berbeda :
Komitmen off the record, tidak ditepati oleh pihak tempo. Tempo dengan jelas menulis nama saya sebagai lead dari tulisan "Dari Halaman Satu Setengah". Saya langsung menghubungi redaktur yang bersangkutan, menyatakan keberatan. Redaktur tersebut kemudian mengatakan ini adalah kesalahannya, dia salah dengar. Dia kemudian menyarankan agar saya menulis surat pembaca.
2. Apa yang dikutip oleh Tempo, tidak sesuai dengan apa yang saya sampaikan.
" properti itu sudah selalu disiapkan dan wajib ada", kata Dwi Anggia.
Padahal tak satupun pernyataan saya yang berbunyi seperti kutipan yang ditulis
oleh Tempo.
Apa dasar Tempo menulis kalimat kutipan seolah oleh dari pernyataan saya??
Inilah kemudian yang menjadi keberatan saya, sehingga berakhir dengan protes keras yang saya tuangkan dalam surat pembaca. Yang kemudian diberi judul oleh Tempo " Keberatan Dwi Anggia ". Surat ini kemudian diedit, meski sebelumnya saya sudah meminta agar tidak dilakukan pengeditan. Tempo mengatakan pengeditan surat lazim dilakukan tanpa mengurangi substansi. Saya kemudian meminta agar surat yang diedit, dikirim terlebih dahulu pada saya, sebelum turun cetak. Tapi tidak dilakukan juga oleh pihak Tempo.
Apa boleh buat?
Dibawah ini adalah bunyi surat saya, sebelum diedit oleh Tempo:
Surat pembaca majalah tempo
Melalui surat ini saya ingin melayangkan protes keras dan keberatan atas tulisan redaktur majalah tempo, diedisi Tempo 4-10 Maret 2013, pada tulisan yang berjudul Dari Halaman Satu Setengah.
'N menulis kalimat yang dikutip atas nama saya, Dwi Anggia Presenter TvOne, dalam kepala beritanya, sebagai berikut : "properti itu selalu sudah disiapkan dan wajib ada". Properti yang dimaksud adalah sarung yang digunakan Anas Urbaningrum dan lukisan KH Ali Maksum. Tampaknya Tempo hendak menunjukan "siapa Anas & dari mana dia berakar".
Faktanya adalah, saya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Sebelumnya, pada Jumat ( 1 Maret 2013), 'N' yang mengaku sebagai redaktur tempo, menghubungi saya melalui telpon, dan meminta saya menceritakan suasana dikediaman Anas Urbaningrum, dengan alasan karena saya dua kali mewawancarai Anas Urbaningrum.
'N' menanyakan perihal lukisan yang dijadikan latarbelakang saat saya mewawancarai Anas. Saya jelaskan lukisan itu hanya dipasang sekali saja dari dua wawancara yang saya lakukan.
Saya menjelaskan TvOne selaku tamu, memilih dan menentukan lokasi saat wawancara, sedangkan properti lainnya disediakan dan ditentukan tuan rumah., termasuk lukisan K.H Ali Maksum serta busana apa yang digunakan Anas . Memang ada permintaan untuk memasang lukisan sebagai latarbelakang wawancara, tapi itu hanya satu kali pada tanggal 7 Februari 2013, sebelum AU ditetapkan sebagai tersangka. Tidak ada lukisan KH Ali Maksum dalam wawancara saya yang coda dikediaman Anas Urbaningrum.
Sangat jelas, bahwa kutipan yang ditulis 'N' sama sekali berbeda dengan pernyataan yang saya berikan. 'N' menulis kesimpulan dan pendapat pribadinya dalam tulisan tersebut, dan menggunakan nama saya. Ini yang menjadi keberatan saya!. Jika 'N' ingin beropini, lebih baik tidak usah mewawancarai saya sebelumnya.
Selanjutnya saya menyatakan 'N' telah melanggar komitmen, karena saya sudah meminta agar nama saya tidak dicantumkan dalam tulisan.
Atas dua hal ini, 'N' selaku redaktur Tempo, belakangan sudah mengakui kesalahannya, ketika saya konfirmasi melalui telpon. Dengan alasan, dia salah dengar.
Adalah sangat tidak profesional dan sangat disayangkan ketika salah dengar dijadikan alasan, untuk sebuah majalah seperti Tempo. Apalagi sebelumnya saya berkali kali ingatkan, "ini adalah off the record", saya tidak mau nama saya dicantumkan.
====
Demikian isi surat yang saya layangkan. Nama redaktur sengaja tidak saya cantumkan. Tempo tidak menuliskan nama redakturnya adalah demi menjaga kredibilitas redaktur ataupun ini sudah menjadi kebijakan redaksi, apapun itu saya hargai.
Tapi yang jelas, melalui surat pembaca ini saya ingin menyampaikan kekecewaan atas kutipan yang disampaikan yang tidak benar dan komitmen yang tidak ditepati.
Sekian terimakasih
Selasa, 01 Januari 2013
Meretas Mimpi Tahun Yang Baru
Semilir angin membelai malam dan aku..
Tahun berganti, waktu berlalu.
Mereka tertawa, menangis, bahagia.
Diujung sana ada yang lara berselimut duka.
Siapa peduli?
Ini padang, bung.
Langkahmu sendiri langkah sendiri.
Mungkin seiring, mungkin bersebrangan.
Meski tatap kadang bersirobok, tapi hati berpunggungan.
Jumat, 02 November 2012
One Man One Vote and U.S election
The United State of America, a well known democratic country. Known because of the freedom of speech. This year is a big year for the U.S, where election being held. Talking about presidential election, a question pop up in my mind. Would it be different with Indonesia's election? Or would it be the same?
One big question answered. The election system is totally different. Out of my imagination. A bit complicated if I can tell. In Indonesia with do "one man one vote". Everyone use their right to choose their own leader, directly. It happens in any races, The president, governor, house of representative and local head of administration.
Compare to U.S election , Indonesian voters faced with a paper within candidates pictures ( only the president ). While in U.S, every voter faced with several names that they might not know each of them personally. Because, you are not only elect your president, but as well as governor, member of house representative, state secretary, the judge and so on.
One who want to reach the victory have to won the electoral college. Then the popular vote not going to determine who the president is. It happened on US 2000 election. Were Gore candidate from democrat won the popular vote, but lost the electoral college. Many polling predict this history repeated, but in the opposite. Obama predicted going to win the electoral, while Romney gain more popular vote.
This is a hundred percent different election system compare to Indonesia. Where we, Indonesian, decide our own president with one man one vote.
Kamis, 14 Juni 2012
Jiwa dan kalbu sudah terlanjur milikmu
Sayang.. ampuni aku yang sekadar gelak tawa, jenaka yang tak memiliki, harap yang temaram, pelipur tanpa kuasa..
sungguh aku tak berujung denganmu, kamu jelmaan asa, muara keindahan, sudut batin yang sempurna menjawab semua, cemas sekejap sirna.
Selamanya memang bukan masa yg aku punya, tapi kemarin, kini, dan saat demi saat nanti.. Aku mau berusaha yang terbaik.. Tuk melimpah senyumku.. Tuk ada diantara jari jemarimu.. Tuk menyapa dari segala alur kemungkinan.. Tuk mematri bahagiamu tanpa pasti namun percaya.. kelak kita selalu bersisian.. Aku tak mau kehilangan.. jiwa dan kalbu ini sudah terlanjur kau punya..
by:belahanjiwa-jawabansemuagundah
Cinta rahasia
Kembali merasakan cinta rahasia. Sepertinya cinta untukku hanya sebatas cinta rahasia.
Di saat rahasia, aku benar benar bisa mencintai dan rasa nya tak berlebihan kalau aku bilang, aku juga dicintai.
Luka masa lalu hilang sudah, jauh ,hilang.
Tapi seperti kata yang selalu berulang, jatuh cinta sama dengan membuka kesempatan hati untuk dilukai,lagi.
Ini sedikit mendekati luka.
Yang terjadi sekarang, hatiku telah ditelanjangi. Maka kesempatan dilukai semakin membesar.
Tapi aku rela, selama yang melukai hatiku adalah engkau sipemilik hati. Engkau yang aku cinta tanpa syarat.
Aku rela kau bahagia dengannya. Jangan ragu dan takut ungkapkan bahagiamu itu. Tak usah khawatirkan aku. Aku memang cinta tanpa syarat yang dihadirkan Tuhan untuk mu. Berbahagialah sayang. Aku rela menjadi keset disaat kakimu kumuh. Kumuh oleh darah luka yang ditorehkan olehnya. Aku rela membasuh luka hatimu karena nya ,dengan cintaku. Karena aku tanpa syarat untukmu.
Bahagialah dengan nya sayang.
Aku selalu ada disekitarmu, di tiap hela nafasmu, ditiap denyut darah kejantungmu, menyaksikan dan menemanimu bahagia.
Hatiku? Tak mengapa sayang. Sudah kubilang aku tanpa syarat. Hatiku yang serpihan ini telah kugadai, saat pertamakali,aku ucapkan cinta padamu.
Bahagialah saja sayang. Atau amanlah saja. Tak ada keberanian diantara kita untuk mengakui cinta rahasia.
Biar kutelan getir yang sudah aku pilih dari semula.
Getir berhias bahagia, saat melihat kau bahagia.
Maafkan aku bila waktu itu tiba
hai sabtu,aku masih menunggu. pagi tak kunjung menyapa.
langitpun bungkam dengan kelamnya, sambil melepas satu per satu butiran hujan.
kita memang terpisah ruang dan waktu,tapi hati yang berdampingan adalah keniscayaan.
seperti riak ombak dilautan,tak henti meski malam datang.
sabtu, mengapa hujan mu tak seperti biasa?
mengapa kini dinginmu menusuk hingga ke tulang?
mengapa anginmu membekukan hati?
tapi aku tak pernah habis akal.
sudut hatiku masih menyimpan setitik bara,
bara yang kujaga untuk menghangatkan,saat dingin mu tak seperti biasa.
bara yg kian meredup namun tetap menghangatkan.
tapi sabtu, bara ini meski pelan,membakar sudut hati. menyisakan luka.
jadi sabtu, jangan salahkan jika suatu saat aku harus memilih, beku karena dinginmu atau terbakar karena bara ku.
dua dua nya tak menyenangkan sabtu.
maafkan aku bila waktu itu tiba
Minggu, 15 April 2012
Jalan menuju hati
Kau..
Bukan raja memang.
Bukan penguasa.
Bukan yang bergelimangan segala hal.
Pelan pelang kau kumpulkan serpihan itu, dengan sabar kau titi dan tata satu persatu.
Merekapun sepertinya tak mau lakukan itu
Tapi kau, berkeringat berairmata merajutnya untukku tanpa hiraukan detik waktu.
Bagiku kau mulia.
Pelan pelan kau tutup luka menganga, pelan pelan kau buka hati yang terpatri.
Tak sedikit kata terucap yang melukaimu, tapi kau seolah berlalu dan tetap membagi senyum termanis untuk ku.
Aku kini bukan aku dulu. Aku kini mencoba menimba positif dari negatifku dulu.
Kau pelan pelan bimbing tanganku untuk belajar menggenggam kepercayaan.
Kepercayaan yang telah lama tak lagi ku sentuh.
Kepercayaan, yang aku sendiri, sulit melafalkannya.
Kau memang belum merebut cinta yang terkubur ribuan kilo di lubuk hati atau dasa laut.
Tapi kau tau jalan menuju kesana.
Dan aku entah mengapa, sedikit rela memberikan arahnya.
Terimakasih untuk cintamu yang tak bersyarat
Bukan raja memang.
Bukan penguasa.
Bukan yang bergelimangan segala hal.
Pelan pelang kau kumpulkan serpihan itu, dengan sabar kau titi dan tata satu persatu.
Merekapun sepertinya tak mau lakukan itu
Tapi kau, berkeringat berairmata merajutnya untukku tanpa hiraukan detik waktu.
Bagiku kau mulia.
Pelan pelan kau tutup luka menganga, pelan pelan kau buka hati yang terpatri.
Tak sedikit kata terucap yang melukaimu, tapi kau seolah berlalu dan tetap membagi senyum termanis untuk ku.
Aku kini bukan aku dulu. Aku kini mencoba menimba positif dari negatifku dulu.
Kau pelan pelan bimbing tanganku untuk belajar menggenggam kepercayaan.
Kepercayaan yang telah lama tak lagi ku sentuh.
Kepercayaan, yang aku sendiri, sulit melafalkannya.
Kau memang belum merebut cinta yang terkubur ribuan kilo di lubuk hati atau dasa laut.
Tapi kau tau jalan menuju kesana.
Dan aku entah mengapa, sedikit rela memberikan arahnya.
Terimakasih untuk cintamu yang tak bersyarat
aku merajut kasih
Hai sayang,mata ini merindukan setiap desahan lembut nafasmu.
Nafas ketika kau terjaga diiringi cahaya mentari.
Sayang,aku juga merindukan bisikanmu. Bisakan saat mata terpejam, dan hati mendengarkan.
Duhai sayang, padamu aku temukan tentram, padamu juga aku temukan gulana.
Gulana membayangkan harus melepasmu.
Sayang, setiap langkah ku ingin bergandengan tangan denganmu.
Membelah dunia kita berdua,menantang angin dan ombak kita bersama.
Sayang, denganmu gentar seolah tak pernah ku kenal.
Sayang, denganmu mentari seolah tak pernah terbagi diantara dua sisi bumi.
Sayang, aku ingin terus begini saja, terlelap dalam pelukanmu.
Sayang, aku masih haus kasihmu,meski tenggelam dilautanmu.
Sayang, ini aku yang tak pernah terpuaskan karena cinta luar biasa yg tak terbendung.
Nafas ketika kau terjaga diiringi cahaya mentari.
Sayang,aku juga merindukan bisikanmu. Bisakan saat mata terpejam, dan hati mendengarkan.
Duhai sayang, padamu aku temukan tentram, padamu juga aku temukan gulana.
Gulana membayangkan harus melepasmu.
Sayang, setiap langkah ku ingin bergandengan tangan denganmu.
Membelah dunia kita berdua,menantang angin dan ombak kita bersama.
Sayang, denganmu gentar seolah tak pernah ku kenal.
Sayang, denganmu mentari seolah tak pernah terbagi diantara dua sisi bumi.
Sayang, aku ingin terus begini saja, terlelap dalam pelukanmu.
Sayang, aku masih haus kasihmu,meski tenggelam dilautanmu.
Sayang, ini aku yang tak pernah terpuaskan karena cinta luar biasa yg tak terbendung.
Aku malaikat dan iblis, akulah tuan dan hamba
Duhai engkau.. Aku jatuh cinta pada setiap tulisanmu.
Aku menatap urut...
Aku membaca urut, satu per satu kata yang terangkai dalam untaian kalimat.
Tak satu makian yang terlontar darimu , meski hati kadang terluka, meski hati tak selamanya tersenyum.
Duhai engkau, padamu aku belajar menata rasa dan hati. Menata emosi dan akal. Menjadi yang rasional dari emosional.
Duhai engkau, kau memang bukan kekasih hati yang aku cinta menyeluruh, karena kita tidak dituliskan untuk bersama.
Aku pengagummu saja, aku mengagumi dari kejauhan saja.
Setiap kata yang kau goreskan adalah penyejuk jiwa, pelebur lara, menentramkan rasa.
Aku memujamu bagaikan malaikat pada Tuhannya, pun iblis pasa penciptanya.
Aku memujamu bagai pelayan pada tuannya.
Aku menginginkanmau bagai tuan menitah hambanya.
Aku bisa menjadi malaikat pun setan.
Aku bisa menjadi air pun api.
Aku menjadi apapun yang bertentangan di dunia ini, demi bisa memandangmu, tanpa mententuh seujung kukupun.
Aku adalah dahaga di tengah sahara, yang hanya menikmati fatamorgana. Itulah aku padamu. Tapi dahaga tak pernah bisa membunuh yang merasakannya bukan?
Dahaga hanya menyiksa, itu pula yang aku rasakan, saat hanya bisa mengagumimu.
Itupun akan kutebus,demi bisa menjadi pengagum mu
Angel and demon, master and servant, both i am for you.
Aku menatap urut...
Aku membaca urut, satu per satu kata yang terangkai dalam untaian kalimat.
Tak satu makian yang terlontar darimu , meski hati kadang terluka, meski hati tak selamanya tersenyum.
Duhai engkau, padamu aku belajar menata rasa dan hati. Menata emosi dan akal. Menjadi yang rasional dari emosional.
Duhai engkau, kau memang bukan kekasih hati yang aku cinta menyeluruh, karena kita tidak dituliskan untuk bersama.
Aku pengagummu saja, aku mengagumi dari kejauhan saja.
Setiap kata yang kau goreskan adalah penyejuk jiwa, pelebur lara, menentramkan rasa.
Aku memujamu bagaikan malaikat pada Tuhannya, pun iblis pasa penciptanya.
Aku memujamu bagai pelayan pada tuannya.
Aku menginginkanmau bagai tuan menitah hambanya.
Aku bisa menjadi malaikat pun setan.
Aku bisa menjadi air pun api.
Aku menjadi apapun yang bertentangan di dunia ini, demi bisa memandangmu, tanpa mententuh seujung kukupun.
Aku adalah dahaga di tengah sahara, yang hanya menikmati fatamorgana. Itulah aku padamu. Tapi dahaga tak pernah bisa membunuh yang merasakannya bukan?
Dahaga hanya menyiksa, itu pula yang aku rasakan, saat hanya bisa mengagumimu.
Itupun akan kutebus,demi bisa menjadi pengagum mu
Angel and demon, master and servant, both i am for you.
Rabu, 04 April 2012
Cinta dua hati, satu rasa
Dia memandangi wajah yang terpampang di kertas itu. Tertegun, menatap lama. Dalam, sambil sesekali menarik nafas panjang.
Dua menit, tiga menit, sesekali melihat ke belakang, kiri dan kanan. Was was, jika kekasihnya memperhatikan gerak geriknya.
Hampir setiap malam sebelum tidur, satu minggu terakhir kondisi ini terjadi. Sedikit dingin, tanpa kata.
Kemudian, seperti biasa, lampu dimatikan. Dan pasangan itupun terlelap.
Begitu seterusnya dari hari ke hari.
******
situasi yang sama juga terjadi di sudut kamar, di sudut kota yang sama.
Sepasang kekasih tidur saling rangkul. Naas mereka silih berganri menimpali. Mereka memang tidur di ranjang yang sama . Tpi dengan pikiran yg masing masing melayang jauh, dan mimpi yang berbeda.
Pagi menjelang. Di sudut kamar pertama, satu dari sepasang kekasih itu, berbicara di ujung telepon. " sayang, aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Ak tidak bisa hidup berpura pura mencintainya, terus menerus seperti ini.."
Suara hangat di ujung telepon itu, juga mengungkap kan hal yg sama. "aku juga sayang. Kami sepanjang malam, tidur berpelukkan, tapi hampa. Pikiran ku tak bisa lepas dari mu."
***
Aku ingin segera mengatakan pada nya, bahwa aku tak pernah mencintainya. Dan pun tau itu. Tapi aku ak tak tega harus melihat wajah cantik berurai air mata." lanjut suara di sudut kamar itu.
Sayang, aku juga. Akupun tak tahu kalimat apa yang harus aku sampaikan pada orang tuanya, kalau aku mengembalikannya sekarang. Dulu saat aku meminangnya, kau belum ada.
Dua menit, tiga menit, sesekali melihat ke belakang, kiri dan kanan. Was was, jika kekasihnya memperhatikan gerak geriknya.
Hampir setiap malam sebelum tidur, satu minggu terakhir kondisi ini terjadi. Sedikit dingin, tanpa kata.
Kemudian, seperti biasa, lampu dimatikan. Dan pasangan itupun terlelap.
Begitu seterusnya dari hari ke hari.
******
situasi yang sama juga terjadi di sudut kamar, di sudut kota yang sama.
Sepasang kekasih tidur saling rangkul. Naas mereka silih berganri menimpali. Mereka memang tidur di ranjang yang sama . Tpi dengan pikiran yg masing masing melayang jauh, dan mimpi yang berbeda.
Pagi menjelang. Di sudut kamar pertama, satu dari sepasang kekasih itu, berbicara di ujung telepon. " sayang, aku tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Ak tidak bisa hidup berpura pura mencintainya, terus menerus seperti ini.."
Suara hangat di ujung telepon itu, juga mengungkap kan hal yg sama. "aku juga sayang. Kami sepanjang malam, tidur berpelukkan, tapi hampa. Pikiran ku tak bisa lepas dari mu."
***
Aku ingin segera mengatakan pada nya, bahwa aku tak pernah mencintainya. Dan pun tau itu. Tapi aku ak tak tega harus melihat wajah cantik berurai air mata." lanjut suara di sudut kamar itu.
Sayang, aku juga. Akupun tak tahu kalimat apa yang harus aku sampaikan pada orang tuanya, kalau aku mengembalikannya sekarang. Dulu saat aku meminangnya, kau belum ada.
Selasa, 27 Desember 2011
Januari, tanggal 1.
Cinta itu, seru diawal. Dimasa kamu mengejarnya, pasti terasa luar biasa.
Cinta itu, seumur jagung, rasanya bulan madu, indah setiap detik.
Cinta itu, 6 bulan di awal belum terasa bosan, karena semua manis terlihat.
Cinta itu.... Iya, yang aku tahu hanya sampai disitu.
Karena aku tak pernah membiarkan cintaku lebih dari 6 bulan.
Karena kata mereka, lebih dari itu, hanyalah basa basi dan saling memenuhi kewajiban.
Aku memilih tidak mau membuktikan kata mereka.
Jadi yang aku tau cinta itu hanya sampai Juni..
Okay, 2 jam lagi bulan Juli. Aku mau berburu cinta baru dulu.
**
Cinta itu, seumur jagung, rasanya bulan madu, indah setiap detik.
Cinta itu, 6 bulan di awal belum terasa bosan, karena semua manis terlihat.
Cinta itu.... Iya, yang aku tahu hanya sampai disitu.
Karena aku tak pernah membiarkan cintaku lebih dari 6 bulan.
Karena kata mereka, lebih dari itu, hanyalah basa basi dan saling memenuhi kewajiban.
Aku memilih tidak mau membuktikan kata mereka.
Jadi yang aku tau cinta itu hanya sampai Juni..
Okay, 2 jam lagi bulan Juli. Aku mau berburu cinta baru dulu.
**
Aku Juga Mencintaimu
Hujan rintik rintik saat ia menunggunya di loby kantor itu. Sambil sesekali menghisap dalam dalam rokok di sela jari, ia melempar senyuman paling manis, untuk sang kekasih, yang sedang bekerja dari box kaca, cuap cuap sendiri.
Kekasihnya penyiar kondang sebuah radio, ternama dikota mereka.
Tepat pukul sembilan malam, hujan semakin deras, sang kekasih selesai bertugas.
"Pak Djusman, saya pulang dulu ya. Ini uang untuk makan malam, kalau lapar", gadis cantik itu meninggalkan beberapa lembar untuk satpam kantor yang sudah tua.
Kemudian berlalu menuju sesosok di depan loby, dengan kemeja yang sudah basah kuyup.
Kedua nya menembus hujan deras, berpegangan tangan, hujan seolah tak pernah turun.
Pak Djusman tersenyum melihat polah kedua remaja itu.
**
Setiap kali ia mengatakan betapa besar cinta nya pada sang gadis, setiap kali itu juga bibir manis itu hanya memberikan senyum, tanpa kata.
**
Berulang kali potongan cerita itu muncul. Aku berusaha keras mengingat satu per satu perisitiwa indah itu. Tapi semakin keras aku berusaha, semakin sedikit yang ku ingat. Semakin besar rasa sesal terbersit.
**
Kini berganti, aku yang mengunjungi tempat itu. Tak kulihat pemuda itu menunggu kekasihnya seperti biasanya. Tak ada juga gadis manis itu cuap cuap dibalik box kaca.
Tapi hari itu loby kantor itu ramai sekali. Dan penuh karangan bunga.
Bunga yang biasa dikirim untuk ucapan belasungkawa.
Aku terkejut, ada namaku di karangan bunga itu.
Aku, mati? Aku sudah mati?
Bagaimana mungkin aku mati jika dalam 3 tahun ia mencintaiku,tapi tanpa ada satu ucapan bahwa aku mencintainya sama sekali. Rasa sesal luar biasa muncul.
**
Bagaimana aku mati? Aku bertanya pada malaikat.
**
Dihari terakhir ia mengatakan cinta padamu, adalah hari terakhirnya hidup.
**
Kamu tahu kapan jadwalnya harus ke dokter dan memeriksakan penyakitnya?
Sesaat setelah mengantarmu bekerja.
**
Kamu tahu kapan ia harus minum obatnya?
Sesaat setelah memastikan kau aman sampai dirumah.
**
Kamu tau obat apa yang membuatnya bertahan hidup?
Kebahagiaanmu dan saat kau tersenyum.
**
Tapi coba kau ingat ingat,kapan kau benar benar mengatakan kau mencintainya?
**
Belum, belum pernah kukatakan.
**
Masih belum ingat ,bagaimana kau mati?
**
Belum.
**
Aku ceritakan, atau kau ingat sendiri?
**
........
**
Baiklah. Dihari kematiannya, kau baru tau semua tentang dirinya dan penyakitnya, setelah 3 tahun.
Kau menyesal, tak sempat ungkapkan bahwa kau juga mencintainya.
Dihari itu juga,kau putuskan untuk mati. Dan menyampaikan cintamu padanya.
**
Aku terdiam. Dikejutkan tangan dingin menyentuh bahuku. Tangan yang aku kenal. Tangannya.
Akhirnya, "aku juga mencintaimu".
Apa ini yang disebut Cinta sampai mati?
Kekasihnya penyiar kondang sebuah radio, ternama dikota mereka.
Tepat pukul sembilan malam, hujan semakin deras, sang kekasih selesai bertugas.
"Pak Djusman, saya pulang dulu ya. Ini uang untuk makan malam, kalau lapar", gadis cantik itu meninggalkan beberapa lembar untuk satpam kantor yang sudah tua.
Kemudian berlalu menuju sesosok di depan loby, dengan kemeja yang sudah basah kuyup.
Kedua nya menembus hujan deras, berpegangan tangan, hujan seolah tak pernah turun.
Pak Djusman tersenyum melihat polah kedua remaja itu.
**
Setiap kali ia mengatakan betapa besar cinta nya pada sang gadis, setiap kali itu juga bibir manis itu hanya memberikan senyum, tanpa kata.
**
Berulang kali potongan cerita itu muncul. Aku berusaha keras mengingat satu per satu perisitiwa indah itu. Tapi semakin keras aku berusaha, semakin sedikit yang ku ingat. Semakin besar rasa sesal terbersit.
**
Kini berganti, aku yang mengunjungi tempat itu. Tak kulihat pemuda itu menunggu kekasihnya seperti biasanya. Tak ada juga gadis manis itu cuap cuap dibalik box kaca.
Tapi hari itu loby kantor itu ramai sekali. Dan penuh karangan bunga.
Bunga yang biasa dikirim untuk ucapan belasungkawa.
Aku terkejut, ada namaku di karangan bunga itu.
Aku, mati? Aku sudah mati?
Bagaimana mungkin aku mati jika dalam 3 tahun ia mencintaiku,tapi tanpa ada satu ucapan bahwa aku mencintainya sama sekali. Rasa sesal luar biasa muncul.
**
Bagaimana aku mati? Aku bertanya pada malaikat.
**
Dihari terakhir ia mengatakan cinta padamu, adalah hari terakhirnya hidup.
**
Kamu tahu kapan jadwalnya harus ke dokter dan memeriksakan penyakitnya?
Sesaat setelah mengantarmu bekerja.
**
Kamu tahu kapan ia harus minum obatnya?
Sesaat setelah memastikan kau aman sampai dirumah.
**
Kamu tau obat apa yang membuatnya bertahan hidup?
Kebahagiaanmu dan saat kau tersenyum.
**
Tapi coba kau ingat ingat,kapan kau benar benar mengatakan kau mencintainya?
**
Belum, belum pernah kukatakan.
**
Masih belum ingat ,bagaimana kau mati?
**
Belum.
**
Aku ceritakan, atau kau ingat sendiri?
**
........
**
Baiklah. Dihari kematiannya, kau baru tau semua tentang dirinya dan penyakitnya, setelah 3 tahun.
Kau menyesal, tak sempat ungkapkan bahwa kau juga mencintainya.
Dihari itu juga,kau putuskan untuk mati. Dan menyampaikan cintamu padanya.
**
Aku terdiam. Dikejutkan tangan dingin menyentuh bahuku. Tangan yang aku kenal. Tangannya.
Akhirnya, "aku juga mencintaimu".
Apa ini yang disebut Cinta sampai mati?
dwi anggia and the world in the mirror: Kertas Merah Muda
dwi anggia and the world in the mirror: Kertas Merah Muda: Waktu,waktu hari ini berjalan sangat lambat. Begitu lambatnya,sehingga aku bisa menghabiskan satu buku setebal, setipis 155 halaman, hanya d...
Kertas Merah Muda
Waktu,waktu hari ini berjalan sangat lambat. Begitu lambatnya,sehingga aku bisa menghabiskan satu buku setebal, setipis 155 halaman, hanya dalam 1 jam lebih,menuju 2 jam.
Membaca tulisanmu, mengingatkan aku pada cinta pertamaku. Saat itu kami masih berseragam putih biru.
Ia setengah berlari menghampiriku,memegang secarik kertas.
"I love you", itu tulisan yang tertera disana.
Dengan wajah tersipu, ia segera meninggalkanku, menuju Icad, temannya yang berbadan bongsor.
Aku masih terdiam, di ujung gerbang sekolah, menghadap hamparan rumput lapangan bola milik sekolah. Hari itu aku berbunga, cinta pertama luar biasa.
**
"Kriiinggggg" bel tanda pelajaran pertama dimulai. Sambil menaruh tas hijau kulit bermerek contempo, aku menaruh buku pelajaran di laci meja.
Saat itu juga tanganku menyentuh sebentuk amplop halus.
Segera kutarik tanganku, dan seketika wangi menempel dijariku.
Penasaran sambil mendongak ke laci meja sekolah, aku merogoh laci itu.
Tak salah, sebuah amplop berwarna merah hati, bertuliskan namaku, dengan tinta merah.
Berdegup kencang, aku membuka amplop itu. Selembar kertas wangi, dan secarik kain.
Ah bukan kain, itu sapu tangan merah muda, dengan jahitan tangan namaku di salah satu sudutnya.
Manis.
Tak sabar kubaca surat itu.
" Dear, you ..."
Isinya layaknya orang tengah jatuh cinta. Bedanya,ini surat cinta anak seragam biru putih, sehingga ada gambar mobil di bawahnya, dengan plat nomor, singkatan nama nya dan namaku.
"Kriiingg..." Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini. Secarik kertas dengan balasan manis, sudah kutinggalkan disudut laci sekolah...
Aku yang kecil,mulai mengenal cinta.
**
Keesokan harinya, sebelum meletakkan buku pelajaran di dalam laci, aku memeriksa nya terlebih dahulu.
Hmmm.. Amplop selanjutnya. Selain surat, ada sebuah kertas bertuliskan namaku yang dilaminating. Warnanya merah muda,lagi.
Dari sini aku mengerti mungkin warna merah muda, adalah warna orang yang sedang jatuh cinta.
Meski setelah dewasa,tidak demikian yang aku dapati.
**
Hari demi hari, semua surat itu, menumpuk di dalam sebuah plastik, di ujung bawah tempat tidurku. Rapi dan tetap wangi.
Satu hari, kami berjalan beriringan, searah, tanpa kata. Hanya saling senyum, melirik dan tertunduk.
Jalan itu terasa sangat pendek jika aku berjalan beriringan dengannya.
Kami beriringan, tapi dipisahkan dua lajur jalan. Ya beriringan disisi jalan yang berbeda.
Itulah cinta murni yang mungkin pernah aku rasakan.
Sambil menarik nafas panjang dan tersenyum, aku mengingat semua.
Dan hari ini, aku kembali menerima surat darinya. Deg deg deg.. Rasa itu kembali ada, muncul, rasa yang aku punya bertahun tahun lalu.
Kubuka, kertas merah muda, kertas yang katanya untuk orang kasmaran. Ada namanya, alamat, dan tanggal yang tertera.
Ia memang tengah kasmaran, dan akan menikah. Aku membaca undangannya.
Tanpa suara, hanya rasa sesak didada.
**
Undangannya kuselipkan di dalam bukumu.
Membaca tulisanmu, mengingatkan aku pada cinta pertamaku. Saat itu kami masih berseragam putih biru.
Ia setengah berlari menghampiriku,memegang secarik kertas.
"I love you", itu tulisan yang tertera disana.
Dengan wajah tersipu, ia segera meninggalkanku, menuju Icad, temannya yang berbadan bongsor.
Aku masih terdiam, di ujung gerbang sekolah, menghadap hamparan rumput lapangan bola milik sekolah. Hari itu aku berbunga, cinta pertama luar biasa.
**
"Kriiinggggg" bel tanda pelajaran pertama dimulai. Sambil menaruh tas hijau kulit bermerek contempo, aku menaruh buku pelajaran di laci meja.
Saat itu juga tanganku menyentuh sebentuk amplop halus.
Segera kutarik tanganku, dan seketika wangi menempel dijariku.
Penasaran sambil mendongak ke laci meja sekolah, aku merogoh laci itu.
Tak salah, sebuah amplop berwarna merah hati, bertuliskan namaku, dengan tinta merah.
Berdegup kencang, aku membuka amplop itu. Selembar kertas wangi, dan secarik kain.
Ah bukan kain, itu sapu tangan merah muda, dengan jahitan tangan namaku di salah satu sudutnya.
Manis.
Tak sabar kubaca surat itu.
" Dear, you ..."
Isinya layaknya orang tengah jatuh cinta. Bedanya,ini surat cinta anak seragam biru putih, sehingga ada gambar mobil di bawahnya, dengan plat nomor, singkatan nama nya dan namaku.
"Kriiingg..." Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini. Secarik kertas dengan balasan manis, sudah kutinggalkan disudut laci sekolah...
Aku yang kecil,mulai mengenal cinta.
**
Keesokan harinya, sebelum meletakkan buku pelajaran di dalam laci, aku memeriksa nya terlebih dahulu.
Hmmm.. Amplop selanjutnya. Selain surat, ada sebuah kertas bertuliskan namaku yang dilaminating. Warnanya merah muda,lagi.
Dari sini aku mengerti mungkin warna merah muda, adalah warna orang yang sedang jatuh cinta.
Meski setelah dewasa,tidak demikian yang aku dapati.
**
Hari demi hari, semua surat itu, menumpuk di dalam sebuah plastik, di ujung bawah tempat tidurku. Rapi dan tetap wangi.
Satu hari, kami berjalan beriringan, searah, tanpa kata. Hanya saling senyum, melirik dan tertunduk.
Jalan itu terasa sangat pendek jika aku berjalan beriringan dengannya.
Kami beriringan, tapi dipisahkan dua lajur jalan. Ya beriringan disisi jalan yang berbeda.
Itulah cinta murni yang mungkin pernah aku rasakan.
Sambil menarik nafas panjang dan tersenyum, aku mengingat semua.
Dan hari ini, aku kembali menerima surat darinya. Deg deg deg.. Rasa itu kembali ada, muncul, rasa yang aku punya bertahun tahun lalu.
Kubuka, kertas merah muda, kertas yang katanya untuk orang kasmaran. Ada namanya, alamat, dan tanggal yang tertera.
Ia memang tengah kasmaran, dan akan menikah. Aku membaca undangannya.
Tanpa suara, hanya rasa sesak didada.
**
Undangannya kuselipkan di dalam bukumu.
Sabtu, 24 Desember 2011
Gumaman hari ini (suara hati)
Kata orang bijak, dibalik hai yang beku, pasti ada harapan yang tersimpan. Entah, orang bijakmana yang bilang itu. Kata saya, hati yang beku tak butuh harapan. Tapi butuh hati lain yang menghangatkan. Itu saja.
sampai pada suatu krpetika, saya kembali bermin dengan yang namanya hati. Hei, hati, apa kabarmu.
Lam terasa tak memakai mu. Hahahahahaa... Yayayayaa.. U knowlah.. Sekarang sedikit terbersit menggunakan hati. Maklum masih malu malu, dan ragu. Dan hati hati tepatnya. Karena luka lama saja masih berbekas. Sebenarnya tak ada masalah dengan pengguna hati yang ini. Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi catatan hati. Dia mungkin baik, tapi apa saya bisa bahagia dengannya? Karena pendakian ini melelahkan, tentu saja saya butuh tempatvuntuk berteduh. Tapi bagaimana bisa berteduh, padanya yang juga belajar mendaki. Hari ini agak menyedihkan. Kemarin membahagiakan. Walau kemarin sempat tergurat ragu atas ihklasnya. Tapi terjawab. Hari ini menyedihkan, karena dia memposisikan diri, sama seperti mereka yang selama ini bergantung padaku. Lalu aku pada siapa? Jika untuk masalah sepele saja dia bergantung pada ku, lalu aku akan bergantung pada siapa? Bisa dia? Sanggup dia? Ini muncul tiba tiba seketika saja.
Ini yang dibilang orang, karena nila setitik, rusak susu sebelahnya, eh sebelanga :) .
Mungkin diantidak bermaksud apa. Hanya minta tolong, tapi aku yang terlalu kaku, menilainya lain. Inilah hasil jika terlalu skeptis dalam hidup. Kalau dia bilang, negatif thinking.
Entah ya, saya mesti bagaimana. Mungkin inilah hasil kalau anak perempuan terlalu berkhayal bahwa mr.perfecto itu ada. Hahahahaa..
sampai pada suatu krpetika, saya kembali bermin dengan yang namanya hati. Hei, hati, apa kabarmu.
Lam terasa tak memakai mu. Hahahahahaa... Yayayayaa.. U knowlah.. Sekarang sedikit terbersit menggunakan hati. Maklum masih malu malu, dan ragu. Dan hati hati tepatnya. Karena luka lama saja masih berbekas. Sebenarnya tak ada masalah dengan pengguna hati yang ini. Hanya saja ada beberapa hal yang menjadi catatan hati. Dia mungkin baik, tapi apa saya bisa bahagia dengannya? Karena pendakian ini melelahkan, tentu saja saya butuh tempatvuntuk berteduh. Tapi bagaimana bisa berteduh, padanya yang juga belajar mendaki. Hari ini agak menyedihkan. Kemarin membahagiakan. Walau kemarin sempat tergurat ragu atas ihklasnya. Tapi terjawab. Hari ini menyedihkan, karena dia memposisikan diri, sama seperti mereka yang selama ini bergantung padaku. Lalu aku pada siapa? Jika untuk masalah sepele saja dia bergantung pada ku, lalu aku akan bergantung pada siapa? Bisa dia? Sanggup dia? Ini muncul tiba tiba seketika saja.
Ini yang dibilang orang, karena nila setitik, rusak susu sebelahnya, eh sebelanga :) .
Mungkin diantidak bermaksud apa. Hanya minta tolong, tapi aku yang terlalu kaku, menilainya lain. Inilah hasil jika terlalu skeptis dalam hidup. Kalau dia bilang, negatif thinking.
Entah ya, saya mesti bagaimana. Mungkin inilah hasil kalau anak perempuan terlalu berkhayal bahwa mr.perfecto itu ada. Hahahahaa..
Suatu hari dinegeri khayangan
Ternyata sama saja. Kurang sensitif. Dia baru saja meneteskan air mata karena permasalahan keluarganya. Tapi pacarnya justru dengan tidak sensitifnya minta bantuan yang sama. Saya tidak menyalahkan dia, karena secara psikologis dia sudah lelah terbebani. Seharusnya pacarnya mengerti itu. Bukan nomimal yang dipermasalahkan. Tapi karena kekurang sensitifan saja.
Ini mungkin kasus yang berbeda dengan perselisihan mereka sebelumnya.
Mungkin saja kalau pacarnya tidak minta tolong dihari yang sama dengan ia mentitikan air mata karena maslah yang sama, mungkin ini tak akan menjadi soal, tak menjadi masalah baginya.
Aku haus, dunia berangsur dingin. Mungkin aku harus pergi bersembunyi. Khayangan atau turun ke bumi?
Jumat, 25 November 2011
Indonesia masa kini I
Jaksa menghamili narapidana. Jaksa terima suap 2,5 miliar. Hakim minta penari telanjang. Pengacara mengaku hitam dan abu abu, bukan putih. Polisi menembaki pengunjukrasa. Anggota dewan masuk bui. Mantan menteri antre untuk masuk bui.
Pejabat bersumpah palsu memberi kesaksian. Kekayaan alam di eksploitasi korporasi asing. Orang miskin dilarang sakit.
Dipapua lumbung emas dan tembaga, masyarakat dibiarkan bodoh. pendidikan dibiarkan mahal, edukasi menjadi barang mewah, kesehatan menjadi barang mewah. Orang miskin pasti nodoh, orang miskin pasti sakit.
Wakil rakyat (katanya mewakili rakyat) , mobil mewah bukan hal aneh. Dalih butuh mengejarkan waktu dan aman, maka harus pake mobil bagus (nudirman munir di aki malam).
Kalau sudah kaya dari lahir tak hilangkan hak untuk hidup mewah (memang tak ad larangan) tapi simpati yang diminta rakyat. Rakyat tak harapkan kucuran uang, dari wakil nya. Hanya butuh haknya diperjuangkan.
Kemana ? Beratkah?
Pejabat bersumpah palsu memberi kesaksian. Kekayaan alam di eksploitasi korporasi asing. Orang miskin dilarang sakit.
Dipapua lumbung emas dan tembaga, masyarakat dibiarkan bodoh. pendidikan dibiarkan mahal, edukasi menjadi barang mewah, kesehatan menjadi barang mewah. Orang miskin pasti nodoh, orang miskin pasti sakit.
Wakil rakyat (katanya mewakili rakyat) , mobil mewah bukan hal aneh. Dalih butuh mengejarkan waktu dan aman, maka harus pake mobil bagus (nudirman munir di aki malam).
Kalau sudah kaya dari lahir tak hilangkan hak untuk hidup mewah (memang tak ad larangan) tapi simpati yang diminta rakyat. Rakyat tak harapkan kucuran uang, dari wakil nya. Hanya butuh haknya diperjuangkan.
Kemana ? Beratkah?
Kaca bukan baja
Baja
Seperti baja terlihat dari luar. Ia datang ke tempat yang sesungguhnya tak pernah ia kenal sebelumnya. Lamunannya pun terbang ke masa lalu. Masa kecil yang samar samar.
"ibu..apakah anak anda dirumah sering diomeli?", tanya guru kelas 1SD adabiah itu.
" Tidak, ada apa? mengapa?", si ibu muda kembali bertanya.
"ah, begitu". Lanjut si ibu guru.
"anak anda tidak pernah bergaul dan bermain dengan teman temannya. Ia hanya memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya."
" ketika ada yang terjatuh, ia hanya tersenyum."
" Hanya memperhatikan saja, tanpa mencoba untuk berinteraksi".
Lamunan itu berlalu. Ternyata memang sifatnya seperti itu. Bukannya tidak bergaul. Ia hanya orang yang penyindiri, diam, mengamati dan sedikit sensitif.
Sikap yang sulit bagi seseorang untuk bisa bertahan dilingkungannya yang keras. Yang penuh sikut menyikut, tusuk dari belakang, gunting dalam lipatan, serigala berbulu domba. Dan beragam ungkapan lagi untuk mereka yang tak tulus.
" Hei, ini dunia, bukan surga", ia berkata.
" Didunia, hidup memang tak adil. So face it. Get used to it".
Setelah berbicara pada dirinya sendiri, ia pun tersadar, ia berada di salah satu spot ruangan yang ramai. Berisik, penuh suara dan tawa, tapi entah mengapa ja merasa sendiri. Alone. Hanya sendiri dikeramaian itu.
Ia pun tak tahu, what went wrong..
Air matanya tak menitik, tidak saat itu. Tapi ia tahu persis hatinyalah yang menangis.
Pun demikian, ia berusaha tegar. Tak perlu berusaha terlihat tegarpun sebenarnya wajah nya sudah terlihat keras. Sekeras kehidupan yang sudah dilaluinya.
Mungkiin itu juga yang membuat orang urung dekat dengannya.
Ah seandainya mereka tahu, selembut apa dan serapuh apa ia didalamnya.
Pasti mereka tak mengira ia baja, melainkah hanya sebilah kaca yang rentan dan mudah pecah, hancur berkeping..
Selasa, 08 November 2011
Haba get?
Long time no write...apa kabar temans...apa ya yang harus tertulis disini? Tak ada yang baru.. Apa yang baru.. Di hati ada yang baru..
Langkah baru yang jelas.. Dan hp gue baru aja rusak.. Satu kesamber petir.. Satu ga tau kenapa tiba tiba ngereset sendiri...
Now the athmosphere is very different. Feels like running, sprint everyday..
Tired? Yeah,sure i do. Happier? A bit.. Change? Na a .. A bit, i did...
Oya ..semsngat baru itu pasti ada. Tapi iNget juga, selalu ada manusia manusia baru yang suka menghancurkan semangat baru.. So u better be ready with it.
My mind flown into two and half years ago.. It was a nice, heritage n old place. Yes me in my dream city.
Langkah baru yang jelas.. Dan hp gue baru aja rusak.. Satu kesamber petir.. Satu ga tau kenapa tiba tiba ngereset sendiri...
Now the athmosphere is very different. Feels like running, sprint everyday..
Tired? Yeah,sure i do. Happier? A bit.. Change? Na a .. A bit, i did...
Oya ..semsngat baru itu pasti ada. Tapi iNget juga, selalu ada manusia manusia baru yang suka menghancurkan semangat baru.. So u better be ready with it.
My mind flown into two and half years ago.. It was a nice, heritage n old place. Yes me in my dream city.
Rabu, 18 Mei 2011
Terimakasih
Ketakutan apa yang kurasakan ini Tuhan?
Terlalu takut mencintai.
Karena perih itu masih tertanam.
Terulang lagi? Please jangan.
Lebih baik tak usah mencintai, agar tak terluka lagi.
Benar memang, ada resiko terhadap semua tindakan yang kita lakukan. Termasuk ketika menyayangi seseorang.
Lebih baik tak usah mengambil resiko itu bukan?
Jika tak ingin terluka?
Itu yang aku pilih.
Kembali menutup rapat.
Aku dan hati belum siap.
Meski sudah terlanjur menyayangi.
Terimakasih
Terimakasih...
Terlalu takut mencintai.
Karena perih itu masih tertanam.
Terulang lagi? Please jangan.
Lebih baik tak usah mencintai, agar tak terluka lagi.
Benar memang, ada resiko terhadap semua tindakan yang kita lakukan. Termasuk ketika menyayangi seseorang.
Lebih baik tak usah mengambil resiko itu bukan?
Jika tak ingin terluka?
Itu yang aku pilih.
Kembali menutup rapat.
Aku dan hati belum siap.
Meski sudah terlanjur menyayangi.
Terimakasih
Terimakasih...
Senin, 16 Mei 2011
cintamu, klise
Terlalu berat ternyata
Tak bisa menerima sedikit kesalahan
Ketakutan terbesar tak beralasan
Selalu terjadi
.
Salah mereka tak bisa membaca hati ini
Yang gampang pergi jika sedikit teragu
Satu kata sederhana bisa menjadi juara di hati, faithful
Satu kata klise yang bisa memenangkan hati, kesetiaan
Satu kata klise yang bisa membuat saya mencinta sepenuh jiwa, kesetiaan
Kata klise lain yang di harapkan dalam bercinta, ketulusan
Masih kata klise, cintai aku sampai mati
Semua yang klise memang terlalu naif tapi membahagiakan dan menentramkan
Tapi hati tak mudah percaya pada kata klise
Dan saya adalah seorang pemaaf yang tak mudah melupakan.
Tapi masih ada rasa sayang untukmu sedikit..
Tak bisa menerima sedikit kesalahan
Ketakutan terbesar tak beralasan
Selalu terjadi
.
Salah mereka tak bisa membaca hati ini
Yang gampang pergi jika sedikit teragu
Satu kata sederhana bisa menjadi juara di hati, faithful
Satu kata klise yang bisa memenangkan hati, kesetiaan
Satu kata klise yang bisa membuat saya mencinta sepenuh jiwa, kesetiaan
Kata klise lain yang di harapkan dalam bercinta, ketulusan
Masih kata klise, cintai aku sampai mati
Semua yang klise memang terlalu naif tapi membahagiakan dan menentramkan
Tapi hati tak mudah percaya pada kata klise
Dan saya adalah seorang pemaaf yang tak mudah melupakan.
Tapi masih ada rasa sayang untukmu sedikit..
Senin, 02 Mei 2011
let me go
I am only a girl
If I knew what's inside of me, reveal.
I'm only a girl who has a dream, and its not easy to be me.
Was broken, and I can't pick up the pieces.
I give up.
Try to get it done.
Here I go, scream out loud, to get you back.
You are my only one
And I know u can see right to me, let me go. Let me find my loves one.
Jumat, 04 Februari 2011
floating
I don't know who am I anymore. Could somebody help me.
I don't how trust anymore. Could somebody guide me.
I don't know how to love anymore. Could somebody lead me.
There is no longer pain, on that wound.
but every time I start to fallin' love, the wound recall the pain.
Just like a warn. They warn me, how does it feels to be hurt. How does it feels to be cheat. How your loves one betray you.
since that pain recalled, suddenly I have no love to share. All a got is fear.
Fear of loving.
Fear of caring.
Fear of believing.
Fear of being hurt.
Just like was.
I don't how trust anymore. Could somebody guide me.
I don't know how to love anymore. Could somebody lead me.
There is no longer pain, on that wound.
but every time I start to fallin' love, the wound recall the pain.
Just like a warn. They warn me, how does it feels to be hurt. How does it feels to be cheat. How your loves one betray you.
since that pain recalled, suddenly I have no love to share. All a got is fear.
Fear of loving.
Fear of caring.
Fear of believing.
Fear of being hurt.
Just like was.
Minggu, 19 Desember 2010
titik nol hati
coba tengok sebentar saja ke hati ku.
apa yang kau lihat?
lalu wajahku.
apa yang terlihat?
didalam ini dulu ada berjuta makna dan rasa.
sekarang apa yang kau lihat?
gentar melangkah lagi, arghh apa yang ada dikepala dan hati ku mungkinkah tidak sejalan?
tak sama?
ribuan jam menanti yang tepat untuk bersandar, atau sekedar bercerita sedih dan bahagia. nyaris rupa rasanya seperti apa. sedikit menakutkan, seolah dihadapkan dengan kengerian kembali.
kengerian atas rasa sakit yang sama. kengerian akan akhir kisah yang sama.
tapi rasa membutuhkan ini lebih besar? lantas?
kali ini aku dengarkan mau hati ini, kita dengarkan saja.
apa yang kau lihat?
lalu wajahku.
apa yang terlihat?
didalam ini dulu ada berjuta makna dan rasa.
sekarang apa yang kau lihat?
gentar melangkah lagi, arghh apa yang ada dikepala dan hati ku mungkinkah tidak sejalan?
tak sama?
ribuan jam menanti yang tepat untuk bersandar, atau sekedar bercerita sedih dan bahagia. nyaris rupa rasanya seperti apa. sedikit menakutkan, seolah dihadapkan dengan kengerian kembali.
kengerian atas rasa sakit yang sama. kengerian akan akhir kisah yang sama.
tapi rasa membutuhkan ini lebih besar? lantas?
kali ini aku dengarkan mau hati ini, kita dengarkan saja.
Rabu, 15 Desember 2010
love
the thing called love...
i was sitting alone, since you were gone.
this feeling i have, is a doubt.
no love left.
you took it all.
dont even leave a piece for me.
now i am a walking one, without love, nor heart.
then he came.
am i a live?
not yet.
memories came by.
the way he touch, remain me to you.
the way he act, talk, the way he look.
but it is not you... at all.
Am i still into you?
none.
no
or no one know?
or do i know?
this feeling come again.
still, im trying hard to open up my heart.
fear!
that's what i feel.
fear of loving, fear of loosing, fear if he is not real for me.
fear that i will love him, then it hurts me. like was.
fear that my broken heart will be broken in to dust. since it already into pieces.
thing called love
the thing called love...
i was sitting alone, since you were gone.
this feeling i have, is a doubt.
no love left.
you took it all.
dont even leave a piece for me.
now i am a walking one, without love, nor heart.
then he came.
am i a live?
not yet.
memories came by.
the way he touch, remain me to you.
the way he act, talk, the way he look.
but it is not you... at all.
Am i still into you?
none.
no
or no one know?
or do i know?
this feeling come again.
still, im trying hard to open up my heart.
fear!
that's what i feel.
fear of loving, fear of loosing, fear if he is not real for me.
fear that i will love him, then it hurts me. like was.
fear that my broken heart will be broken in to dust. since it already into pieces.
i was sitting alone, since you were gone.
this feeling i have, is a doubt.
no love left.
you took it all.
dont even leave a piece for me.
now i am a walking one, without love, nor heart.
then he came.
am i a live?
not yet.
memories came by.
the way he touch, remain me to you.
the way he act, talk, the way he look.
but it is not you... at all.
Am i still into you?
none.
no
or no one know?
or do i know?
this feeling come again.
still, im trying hard to open up my heart.
fear!
that's what i feel.
fear of loving, fear of loosing, fear if he is not real for me.
fear that i will love him, then it hurts me. like was.
fear that my broken heart will be broken in to dust. since it already into pieces.
Senin, 13 Desember 2010
semalam di pagai selatan part 4 nyamuk mentawai, hypothermia dan bivac
…Dan…akhirnya saya mencipipi cumi bakar mentawai, wow,,,mengejutkan, enak lho rasanya…hahaha. Apa karena saya laper…? (Anyway..thanks cuminya, ga amis,mungkin resto2 sea food bisa mencontoh cara masak seperti ini, biar ga amis hihi…)…..
Makan malam selesai, badan mulai gatal. Semakin malam, angin semakin kencang dan dingin. Baju dibadan tak kunjung kering. Pelampung tetap saya kenakan, perintah dari kepala rombongan, seandainya dalam keadaan tertidur (kayak yang bisa tidur aja hehe), air laut pasang, maka kita tetap aman dengan pelampung terpasang.
Positif, kami tidak akan di evakuasi malam ini. Dari kejauhan saya bisa melihat langit gelap, awan hitam menggantung. Badai sepertinya akan segera datang. Pak Erick akhirnya juga sudah menghubungi atasannya di Posko Sikakap, Pak Iskandar Siregar. (saya juga masih punya cerita, bagaimana kami akhirnya bisa ikut ke Pororougat).
Saat kami tengah menghangatkan badan didekat api unggun, tiba tiba terlihat lampu kerlap kerlip, dari arah utara tempat kami bermalam. Sepertinya lampu kapal, beberapa anggota SAR bergegas member sinyal balasan menggunakan lampu helm mereka sambil berlari mendekati arah pantai. Tapi sayang, sepertinya kapal tersebut tidak melihat sinyal dari kami. Setelah beberapa menit, lampu ditengah laut itu tidak terlihat lagi. Pupus sudah harapan.
Tapi informasi yang saya dapatkan setelah kembali ke Sikakap, ternyata dihari itu juga, Pemred ANTV, Uni Lubis sudah mengusahakan helicopter PMI untuk mengevakuasi kami ke esokkan hari. Sebelumnya malam tersebut, informasi yang saya peroleh dari Pak Erick, KRI Cirebon rencananya juga akan mengevakuasi kami malam itu, tapi cuaca tidak memungkinkan untuk berlayar. Kesalahan saya, karena buru buru berangkat, tidak mencari informasi cuaca tanggal 1 November tersebut. Ternyata memang ada informasi badai yang akan terjadi diperairan Mentawai hingga 4 November 2010.
Jadilah malam itu kami menetap dipulau tanpa tenda, menunggu besok pagi untuk di evakuasi.
Menjelang malam, saya duduk di bawah pohon kelapa di dekat api unggun. Setiap setengah jam, hujan turun, badan mulai menggigil. Beberapa orang sudah mengambil posisi untuk tidur di bivac darurat yang dibuat sore hari. Mata mulai mengantuk, tapi mau tidur ga bisa, akhirnya saya memilih duduk di dekat api unggun, sambil membayangkan kasur empuk kesayangan saya ..hikss sedih sebenarnya.
Sementara wartawati Fajar Makassar, yang kebetulan nama nya sama, Anggi, sudah mengambil posisi tidur di dalam bivac, memaksakan diri untuk tidur. Sesekali saya mendengar suara dengkuran dari dalam bivac, entah siapa. Ternyata jalan kaki yang panjang membuat mereka mengalahkan nyamuk nyamuk mentawai dan tertidur pulas. Sebagian lain duduk di api unggun lain. Ada dua api unggun yang dinyalakan. Hujan tak berhenti turun, baju saya kembali basah, angin bertiup semakin kencang. Saya merapat ke dalam bivac, mengambil posisi di sebelah Anggi Fajar Makassar. Tidur berdekatan, lumayan untuk menghangatkan badan. Mantel hujan saya kenankan. Tidur dengan tetesan hujan di kepala. Oh God!!! Pengalaman yang luar biasa saya rasakan untuk pertama kali dan semoga terakhir ya..
Tidur dengan kaki terlipat. Sesekali meluruskan kaki di atas rerumputan, ada binatang yang merayap di kaki saya, lipat lagi kakinya hehe. Ampuuunn.. nyamuk mentawai luar biasa. Bahkan satu minggu setelah kembali dari Mentawai, kaki saya yang bentol masih terasa gatal luar biasa.
Pukul satu malam saya masih terjaga dengan posisi berbaring. Hujan masih terus turun di sertai angin, malam semakin dingin. Salute untuk salah satu rombongan asal Papua, yang terus menjaga agar api unggun tetap menyala untuk kami. Semakin malam semakin menggigil, tidak hanya gigi saja germertak berbunyi tapi seluruh badan shaking, gemeteran seluruh badan. Untung tidak mengalami hypothermia , penurunan suhu tubuh dari suhu normal. Hypothermia biasa dialami para pendaki gunung dan sudah banyak pendaki gunung yang meninggal akibat ini. Setelah kembali ke Jakarta, saya mencari informasi terkait Hypothermia, ngeri, ternyata dengan kondisi kami bermalam dengan pakaian basah, hujan dan angin, sangat rentan terkena hypothermia. Syukurlah kami semua sehat walafiat dan lagi lagi terimakasih untuk tim SAR asal papua yang menjaga api untuk kami.
Akhirnya malam itu saya lalui antara tidur dan tidak tidur, ditemani hujan dan menggigil.
Alhamdulillah,keesokkan harinya kami semua masih bisa menghirup udara pagi, meskipun kondisi fisik dan mental menurun.
Pagi itu dengan mata sembab kurang tidur, semua semangat. Ada yang semangat berharap boat kami datang, ada yang semangat melanjutkan berjalan kaki kea rah selatan, ke Pororougat. Saya semangat untuk kembali ke Sikakap dengan harapan ada yang mengevakuasi kami segera. Terus terang badan terasa letih dan perut lapar.
Makan malam selesai, badan mulai gatal. Semakin malam, angin semakin kencang dan dingin. Baju dibadan tak kunjung kering. Pelampung tetap saya kenakan, perintah dari kepala rombongan, seandainya dalam keadaan tertidur (kayak yang bisa tidur aja hehe), air laut pasang, maka kita tetap aman dengan pelampung terpasang.
Positif, kami tidak akan di evakuasi malam ini. Dari kejauhan saya bisa melihat langit gelap, awan hitam menggantung. Badai sepertinya akan segera datang. Pak Erick akhirnya juga sudah menghubungi atasannya di Posko Sikakap, Pak Iskandar Siregar. (saya juga masih punya cerita, bagaimana kami akhirnya bisa ikut ke Pororougat).
Saat kami tengah menghangatkan badan didekat api unggun, tiba tiba terlihat lampu kerlap kerlip, dari arah utara tempat kami bermalam. Sepertinya lampu kapal, beberapa anggota SAR bergegas member sinyal balasan menggunakan lampu helm mereka sambil berlari mendekati arah pantai. Tapi sayang, sepertinya kapal tersebut tidak melihat sinyal dari kami. Setelah beberapa menit, lampu ditengah laut itu tidak terlihat lagi. Pupus sudah harapan.
Tapi informasi yang saya dapatkan setelah kembali ke Sikakap, ternyata dihari itu juga, Pemred ANTV, Uni Lubis sudah mengusahakan helicopter PMI untuk mengevakuasi kami ke esokkan hari. Sebelumnya malam tersebut, informasi yang saya peroleh dari Pak Erick, KRI Cirebon rencananya juga akan mengevakuasi kami malam itu, tapi cuaca tidak memungkinkan untuk berlayar. Kesalahan saya, karena buru buru berangkat, tidak mencari informasi cuaca tanggal 1 November tersebut. Ternyata memang ada informasi badai yang akan terjadi diperairan Mentawai hingga 4 November 2010.
Jadilah malam itu kami menetap dipulau tanpa tenda, menunggu besok pagi untuk di evakuasi.
Menjelang malam, saya duduk di bawah pohon kelapa di dekat api unggun. Setiap setengah jam, hujan turun, badan mulai menggigil. Beberapa orang sudah mengambil posisi untuk tidur di bivac darurat yang dibuat sore hari. Mata mulai mengantuk, tapi mau tidur ga bisa, akhirnya saya memilih duduk di dekat api unggun, sambil membayangkan kasur empuk kesayangan saya ..hikss sedih sebenarnya.
Sementara wartawati Fajar Makassar, yang kebetulan nama nya sama, Anggi, sudah mengambil posisi tidur di dalam bivac, memaksakan diri untuk tidur. Sesekali saya mendengar suara dengkuran dari dalam bivac, entah siapa. Ternyata jalan kaki yang panjang membuat mereka mengalahkan nyamuk nyamuk mentawai dan tertidur pulas. Sebagian lain duduk di api unggun lain. Ada dua api unggun yang dinyalakan. Hujan tak berhenti turun, baju saya kembali basah, angin bertiup semakin kencang. Saya merapat ke dalam bivac, mengambil posisi di sebelah Anggi Fajar Makassar. Tidur berdekatan, lumayan untuk menghangatkan badan. Mantel hujan saya kenankan. Tidur dengan tetesan hujan di kepala. Oh God!!! Pengalaman yang luar biasa saya rasakan untuk pertama kali dan semoga terakhir ya..
Tidur dengan kaki terlipat. Sesekali meluruskan kaki di atas rerumputan, ada binatang yang merayap di kaki saya, lipat lagi kakinya hehe. Ampuuunn.. nyamuk mentawai luar biasa. Bahkan satu minggu setelah kembali dari Mentawai, kaki saya yang bentol masih terasa gatal luar biasa.
Pukul satu malam saya masih terjaga dengan posisi berbaring. Hujan masih terus turun di sertai angin, malam semakin dingin. Salute untuk salah satu rombongan asal Papua, yang terus menjaga agar api unggun tetap menyala untuk kami. Semakin malam semakin menggigil, tidak hanya gigi saja germertak berbunyi tapi seluruh badan shaking, gemeteran seluruh badan. Untung tidak mengalami hypothermia , penurunan suhu tubuh dari suhu normal. Hypothermia biasa dialami para pendaki gunung dan sudah banyak pendaki gunung yang meninggal akibat ini. Setelah kembali ke Jakarta, saya mencari informasi terkait Hypothermia, ngeri, ternyata dengan kondisi kami bermalam dengan pakaian basah, hujan dan angin, sangat rentan terkena hypothermia. Syukurlah kami semua sehat walafiat dan lagi lagi terimakasih untuk tim SAR asal papua yang menjaga api untuk kami.
Akhirnya malam itu saya lalui antara tidur dan tidak tidur, ditemani hujan dan menggigil.
Alhamdulillah,keesokkan harinya kami semua masih bisa menghirup udara pagi, meskipun kondisi fisik dan mental menurun.
Pagi itu dengan mata sembab kurang tidur, semua semangat. Ada yang semangat berharap boat kami datang, ada yang semangat melanjutkan berjalan kaki kea rah selatan, ke Pororougat. Saya semangat untuk kembali ke Sikakap dengan harapan ada yang mengevakuasi kami segera. Terus terang badan terasa letih dan perut lapar.
Jumat, 03 Desember 2010
semalam di pagai selatan part 3. biskuit, nasi bungkus dan humut kelapa


…Sementara, kameramen saya Cecep Mahmud, berhasil berenang dengan satu tangan, sambil terus memegangi kamera agar tidak basah. Sungai terlewati, jalan kaki dilanjutkan kembali….
Sebelumnya saat menyebrang salah seorang anggota SAR, dr. Rizal dari PTI nyaris terbawa ombak di muara sungai. Untunglah tim yang lain,(kalau tidak salah, Pak Dedy, security PTI) dengan cekatan berenang dan menarik Dr. Rizal. Dan seluruh tim pun selamat tiba di seberang sungai. Semua peralatan kami basah, untung kamera PD 170 yang di bawa Cecep, masih bisa di operasikan, walaupun sebagian LCD nya sudah menghitam terkena air.
Tapi iPod kesayangan saya rusak, terisi penuh air laut .
Setelah beberapa menit beristirahat di seberang, kami kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Cuaca masih tak menentu, panas - terik, kemudian mendadak mendung, badai dan hujan. Sementara kulit mulai perih, terutama kulit muka. Sedangkan kaki sudah mulai lecet, maklum saya hanya menggunakan sandal gunung dan celana pendek.
Hari sudah semakin sore, pukul empat lebih, kami berhenti sejenak, tepat nya di daerah sapiren yang berdekatan dengan daerah montei. Kepala rombongan Pak Erick memutuskan untuk bermalam di lokasi ini. Kenapa di tempat ini di putuskan bermalam? Karena pantai nya cukup landai, cukup memungkinkan bagi long boat untuk merapat. (tapi ternyata tidak..)
Setelah berhenti, saya sempat berbicara dengan kepala rombongan, ada baiknya kita melapor posisi dan minta di evakuasi besok. Karena kondisi logistik yang tidak memungkinkan, dan kita juga tidak memiliki tenda. Namun kepala rombongan mengatakan, tidak perlu, karena kondisi kita masih aman, dan kita tidak kehilangan kontak dengan pihak luar. Memang benar, tapi dengan kondisi fisik sudah lelah, makanan terbatas, dan menjelang gelap, paling tidak saya harus memberitahu kantor, posisi saya sekarang.
Berangkat dari Jakarta, kami di bekali sebuah telepon satelit. Saat itu juga saya ambil telepon satelit dari dalam tas dan mulai menyalakan telepon. Susah memang, tapi tak berapa lama, telepon satelait saya mendapatkan signal.
Yang pertama saya telepon adalah teman saya,temmy Saya sengaja tidak menelepon keluarga, agar mereka tidak panik. kepada temmy, saya beritahu kondisi terakhir kami yang sudah berjalan kaki kurang lebih 5 jam, minim logisitik, serta memberitahu koordinat lokasi terkahir saya.
Setelah itu saya menelepon kantor, produser Angghi Mulya Makmur. Hal yang sama saya sampaikan kepada angghi. Ia langsung mencari posisi saya melalui titik koordinat GPS yang kami berikan.
Koordinat terakhir :
South 02 derajat 59 menit 43,9 detik
East 100 derajat 11 menit 51 detik
Dari titik koordinat inilah kemudian Angghi mencari tahu posisi kami, ternyata berada di tengah pulau pagai selatan bagian barat, dan berhadapan dengan samudera hindia.
Kondisi baterai telepon satelit tinggal dua trip, saya masih berkomunikasi dengan beberapa teman, untuk menjelaskan posisi dan kondisi. Hingga akhirnya baterai telepon habis.
Kembali ke pantai…
bibir pantai tempat kami bermalam cukup porak poranda setelah dihantam tsunami. Sambil melemparkan pandangan kesekeliling, saya mencoba mencari, siapa tahu ada tanda tanda kehidupan penduduk sekitar. Tapi nihil. Di hadapan saya, lautan lepas samudera hindia, sementara itu di belakang saya, hutan. Banyak patahan pohon pohon tumbang, daratan tergerus setinggi setengah meter.
Lagi lagi saya memuji indahnya ombak mentawai dan pemandangan di sekeliling saya, meski sebagian hancur. Tapi moment menikmati indahnya alam mentawai terusik dengan hawa dingin dan angin yang mulai menyapa. Baju basah, celana basah, tanpa jaket, ditambah angin pantai, wuihh lumayan rasanya. Perutpun mulai lapar.
Saya masih terus mengenakan pelampung untuk menahan angin mengenai tubuh, lumayanlah. Rombongan tim sar mulai mencari kayu untuk dibakar, agak sulit memang mencari kayu yang kering, karena hujan baru saja berhenti.
Saat yang lain mencari kayu, saya turun ke bibir pantai, mas putu dari PTI tengah mengumpulkan daun kelapa. ( Oiya obrolan pertama saya denga bli Putu ini terjadi ketika merapat pertama kali di malakopak. Saat turun dari boat, dia melihat cincin yang saya pakai, berlambang Tuhan bagi umat hindu bali, ongkare, pemberian seorang teman).
Saya memperhatikan bli Putu menyusun daun kelapa hingga berbentuk seperti atap rumbia. Dia mengajarkan, menyusun daun kelapa, empat lembar dan diberi jarak satu lembar. Lembaran kedua daun kelapa di selipkan ke lembaran pertama, seperti membuat ketupat. Lima belas menit kemudian, kami pun memiliki atap.
Sedangkan yang lain mencari kayu panjang untuk di jadikan pondasi bagi atap daun kelapa. Ternyata mereka sedang membuat bivac. Tidak terlalu besar memang, tapi cukup untuk 6 sampai 7 orang.
Menjelang malam perut sudah tidak bisa di ajak kompromi. Pengalaman di hari kedua di sikakap, kami ke pagai utara tanpa membawa bekal. Saat berangkat ke pagai selatan ini, kami sempat membeli 2 bungkus biskuit untuk bekal dan 5 botol air mineral.
Jelang gelap, beberapa tim sar mulai mencari batang kelapa yang tumbang di sekitar pantai. Sedangkan yang lain mengumpulkan semua perbekalan yang di bawa, untuk kemudian dimakan bersama sama. Alhasil, 4 bungkus biskuit dan 4 bungkus nasi. Salah seorang dari rombongan tim sar ada yang membawa perbekalan di ransel mereka. Makanan sudah terkumpul untuk 28 orang. Cukup? Yaah, cukuplah untuk ganjel perut hehe..
Tim SAR yang menyisir pantai, akhirnya menemukan batang kelapa yang tumbang. Mereka mulai menebas dan memotong motong batang kelapa tersebut. Saya sempat bingung, ketika mereka mengatakan, bahwa batang kelapa ini untuk tambahan makanan.
Mereka memang SAR yang berpengalaman di bidangnya. Saya baru tahu kalau bagian dalam pucuk batang kelapa yang masih muda,bisa dimakan. Disebut humut kelapa, warna nya putih, mengandung banyak air, persis seperti bengkuang. Saya ikut mencicipi, manis terasa.
Sambil mempersiapkan makan malam, rekan saya Cecep masih sempat mengabadikan gambar menggunakan kamera kami yang nyari rusak. Namun hanya beberapa menit, kamera tersebut mati total. Yah, akhirnya pengambilan gambar selanjutnya saya lakukan dengan menggunakan telepon genggam saya, yang kebetulan masih ada baterainya sedikit.
Suasana masih cukup terang, menjelang magrib, kami berkumpul untuk makan bersama. Empat bungkus biskuit, empat bungkus nasi, di makan 28 orang. Gelombang pertama dapat dua sampai tiga suap, gelombang ke dua juga demikian. Lauknya telur balado dan ikan teri. Telur balado nya sudah mulai asam, dibungkus dari pagi. Tapi semua makanan hari itu terasa nikmat dan sangat enak, ditengah tengah perut yang kelaparan hehe…
Kebersamaan yang kami rasakan disana, sama sama sedikit dan sama sama setengah kenyang hehe.. Pada saat itu, saya menyesali, bahwa pernah menyisakan makanan sebelumnya. Yang sedikit terasa sangat berharga. (lesson no.4 jangan pernah membuang buang makanan atau makan bersisa, karena anda akan membayangkannya di saat kelaparan dan tak cukup makanan :p).
Selesai makan, perut masih lapar, beberapa orang lari ke pantai, mereka mencari apa saja yang masih bisa di makan. Ada yang dapat kepiting, ada yang dapat seekor cumi sebesar ibu jari, ada yang dapat kerang, dan ada yang menemukan kelapa. Kami berkumpul di dekat api unggun. Kelapa di bakar ditengah api unggun. Cumi di tusuk keranting kayu, kemudian di bakar.
Melihat cumi mentah, saya tidak tertarik, meski perut masih lapar. Saat cumi tersebut dibakar, saya masih tidak tertarik, terlihat masih basah, dan perut makin keroncongan hehe.
Saat cumi selesai dibakar, yang punya langsung menawarkan, “ Mau mba?. Enak lho ini, cumi bakar. Sama seperti yang direstoran Sea Food di Jakarta”, katanya sambil tertawa. Pertama saya tidak tertarik, tapi kok dia makan kayaknya enak ya hehehe. Dan…akhirnya saya mencipipi cumi bakar mentawai, wow,,,mengejutkan, enak lho rasanya…hahaha. Apa karena saya laper…? (Anyway..thanks cuminya, ga amis,mungkin resto2 sea food bisa mencontoh cara masak seperti ini, biar ga amis hihi…).
Rabu, 24 November 2010
Semalam di pagai selatan , part two. Perjalanan 9 kilometer, 5 jam dan sungai...

...Diskusi dilakukan ditengah laut,kepala rombongan SAR ESDM, Pak Eric akhirnya memutuskan agar seluruh boat merapat ke daratan terdekat. Karena ombak di depan kami terlalu berbahaya. Informasi dari GPS menunjukkan ketinggian ombak 7 meter....
Empat rombongan long boat( sampan kayu dengan diameter kurang dari satu meter, diberi mesin 15 pk) akhirnya berkumpul di pinggir pulau siopa kecil. Setelah di diskusikan, diputuskan, perjalanan dengan jalur darat. Saat itu kami sudah berada di perairan pagai selatan.
Bagian yang mendebarkan bagi saya adalah, saat akan menuju daratan terdekat. Pengalaman pertama seumur hidup saya berhadapan dengan ombak mentawai, yang kata orang di cari para peselancar. Tapi saat itu saya sama sekali tidak tertarik berselancar. Kenapa???? Pertama, saya tidak mahir berenang, kedua, siapa yang mau berselancar di ombak setinggi 7 meterr???
Yang bisa saya lakukan saat itu hanya berdoa dalam hati (dalam kondisi genting,manusia sangat mudah mengingat Tuhannya dan meminta ampun..doh), itulah yang saya lakukan sambil berpegangan pada sisi kiri dan kanan saya, long boat, yang diameternya tak lebih dari satu meter, sambil sesekali menimba air yang masuk ke sampan kami (perintah operator boat, harus terus menimba air keluar dari sampan, kalo tidak sampan kami bisa tenggelam).
Gambarannya seperti ini, saat kami menyisir ( meminjam istilah operator long boat) ombak, long boat bisa berada di puncak ombak, dan kami bisa melihat pulau pulau dari atas gulungan ombak. Tapi saat long boat berada di palung ombak, yang ada di hadapan kami, bagaikan dinding yang terbuat dari ombak. Saya menyaksikan langsung dengan nafas tertahan. Tiba tiba ingat, saya menggunakan pelampung yang tidak standar. ( Lesson no.1, Gunakan pelampung standar, saat berhadapan dengan air!!!)
Sungguh menegangkan, terlalu tegang, sampai sampai saya tidak bisa merasakan mual atau mabuk laut. Jujur, sedikit banyak saya menikmati perjalanan di ombang ambing ombak mentawai, meskipun takut, ada rasa seru. Tapi, ada fakta yang harus di acungi jempol. Nelayan mentawai, luar biasa kemampuan manuver di tengah samudera, menghadapi ombak mentawai!! Salute!!! Mereka dengan lincah membuat sampan kami berselancar di atas ombak .
Nah, ini yang harus di informasikan dengan benar, sampan kami tidak terbalik....Setelah melewati bagian yang menegangkan, akhirnya kami tiba di daratan terdekat. Malakopak, salah satu wilayah yang juga terkena tsunami. Di wilayah ini cukup banyak yang selamat, karena rata rata masyarakat bermukim jauh dari pantai, meskipun ada beberapa yang tinggal di tepi pantai.
Tempat kami merapat, adalah daratan yang tergerus gelombang tsunami, membentuk dermaga pasir, sehingga long boat kami bisa merapat.
Saat menginjakkan kaki di malakopak, bau bangkai masih tercium. Matahari sudah menunjukkan sengatnya. Bersinar terik. Kalau tidak salah, waktu menunjukkan pukul setengah sebelas siang, saat kami mulai berjalan. Kehancuran masif akibat tsunami bisa dilihat di sepanjang pantai. Kami berjalan diantara patahan pohon dan daratan yang tergerus membentuk kali kecil serta bongkahan batu yang hancur.
Perjalanan darat bukan tanpa alasan. Kepala tim rombongan mengatakan, untuk meminimalisir kecelakaan dengan boat, maka seluruh penumpang lebih baik jalan kaki, sedangkan logistik dan obat obatan di bawa menggunakan boat ke arah selatan (pororogat). Rencana awalnya, kami akan kembali naik long boat, dengan asumsi, long boat kami berhasil melewati badai. Tapi yang terjadi, kami tidak pernah bertemu dengan long boat . Karena ternyata, long boat itu kembali ke dermaga awal tempat kami berangkat, lantaran tidak berani bertarung dengan alam, ombak setinggi 7 meter dan badai.
Selain teriknya matahari, hal lain yang saya nikmati adalah pantai pagai selatan yang luar biasa indah di antara puing puing kehancuran akibat tsunami. Kaki kami melangkah di atas pasir putih dan terumbu karang yang mungkin terbawa ombak. Meskipun bau bangkai sesekali masih tercium.
Selama perjalanan, tim sar juga terus melakukan penyisiran mencari korban korban yang mungkin masih ada di sekitar pantai. Menurut warga asli mentawai, badai dan gelombang tinggi tidak akan berhenti, jika masih ada mayat yang berada di lautan. Yah , begitulah mitos mereka, karena laut tidak mau menerima jenazah manusia.
Kembali ke bibir pantai, tidak hanya pasir putih yang indah, tapi kami juga harus melewati patahan pohon besar dan pohon bakau. Saya dan cecep yang menggunakan celana pendek, terpaksa menikmati goresan goresan pohon di kaki kami. ( Lesson no.2, gunakan celana panjang dan jaket, apapun kondisi bencana nya :p)
Lagi lagi saya menikmati perjalanan kaki kami, meskipun kulit mulai terbakar. Kami berjalan di sepanjang bibir pantai yang berhadapan langsung dengan samudra hindia. Cuaca ekstrim, benar benar kami alami. Dua jam pertama perjalanan, matahari sangat terik. Beberapa lama kemudian, badai menemani perjalanan kami yang kemudian dilanjutkan dengan hujan deras. Baju selembar, kering dan basah dibadan. Cecep mahmud, rekan saya terus berusaha mengabadikan gambar menggunakan kamera yang LCD monitornya sudah rusak sebagian.
Selama berjalan kaki menyusuri pantai ke arah selatan, ada satu bagian yang paling berat untuk saya. Menyebrangi sebuah sungai yang bermuara ke lautan lepas. Sungai selebar kurang lebih dua puluh meter, sedalam dua meter. Kenapa berat??? Karena saya tidak mahir berenang. Bisa berenang sedikit di kolam renang, tapi tidak bisa mengapung, tidak bisa ngambang. (Lesson no.3, wartawan wajib bisa berenang dan mengapung di air).
Padahal ,kami semua mengenakan pelampung. Tapi rasa takut kali ini mengalahkan saya. Setelah sempat terjun kesungai, akhirnya saya memutuskan untuk kembali kepinggir, ketakukan karena kaki saya tidak menyentuh dasar sungai. Akhirnya saya mengumpulkan keberanian untuk terjun lagi kesungai, dan dibantu teman teman tim sar, saya berhasil menyebrangi sungai.
Sementara, kameramen saya Cecep Mahmud, berhasil berenang dengan satu tangan, sambil terus memegangi kamera agar tidak basah. Sungai terlewati, jalan kaki dilanjutkan kembali.
Sabtu, 06 November 2010
semalam di pagai selatan part 1


Senin 1 November 2010
Pagi itu senin 1 november 2010, cuaca cerah di kecamatan sikakap, pagai utara. Berbeda dari 4 hari sebelumnya,yang setiap hari di guyur hujan.
Senin pagi matahari tak malu malu menunjukkan cahayanya yang terik. Saya dan cameramen Cecep Mahmud, berangkat ke dermaga lestari, yang berada di kec sikakap, pagai utara. Dermaga yang sama saat sebelumnya, hari jumat 29 oktober 2010, kami berangkat menyusur pantai barat pagai utara menuju montei baru baru. Salah satu lokasi terparah kena gelombang tsunami dengan korban jiwa terbanyak.
Waktu menunjukkan pukul 7 lebih 30 menit saat saya dan cecep tiba di dermaga lestari. Ternyata tidak hanya kami saja yang ingin berangkat ke pagi itu. Ada beberapa rombongan yang sudah siap juga untuk berangkat ke tempat yang sama, yaitu desa pororogat di pagai selatan. Wilayah ini juga hancur diterjang gelombang tsunami, tapi korban jiwanya tidak sebanyak di montei baru baru.
Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya kami mendapatkan long boat ( perahu nelayan yang di beri mesin 15pk) untuk berangkat ke pororogat. Kami ikut dalam rombongan Tim SAR ESDM. Gabungan Tim SAR dari beberapa perusahaan tambang. Tepat pukul 9 pagi, 4 long boat berangkat ke pororogat, Pagai Selatan. Matahari masih bersinar terik, perjalanan dimulai. Langit cerah, dan lautan terlihat indah. Satu jam kami masih melewati selat sikakap. Setelah satu setengah jam, tiba tiba boat yang kami tumpangi memperlambat kecepatan. Kemudian akhirnya berhenti di dekat pulau siopa kecil. Kami bertemu dengan beberapa boat lain yang juga bertujuan ke pororogat.
Diskusi dilakukan ditengah laut,kepala rombongan SAR ESDM, Pak Eric akhirnya memutuskan agar seluruh boat merapat ke daratan terdekat. Karena ombak di depan kami terlalu berbahaya. Informasi dari GPS menunjukkan ketinggian ombak 7 meter.
bersambung..
Jumat, 01 Oktober 2010
Jumat hari kesaktian pancasila

Macet...hari ini libur. Ya, jd jalanlah gw keluar hari ini ya. Pagi pagi bangun, dan ngebangunin orang serumah buat ngurus KTP dan KK.
"Tiiittt.....Ayo mandi buruan ah, kakak banyak urusan nih hari ini".
tapi dasar si tayii. Bukaan tia namanya kalo ga nyautin omongan orang. Bocah super nyebelin, tapi baik hati.
"bang de aja deh yg mandi duluan kak". Si tayi nyaut dr kamr adek gw yg cowok, deon.
"mama aj kak, yg duluan mandi. DandannyaIiiiiiiiiiiiiiiioo kan lama bgt".
Errggghh, gw mulai emosi. Dan mulai teriak teriak dari kamar. Ya tapi apa daya dua adek gw yg pinter ngeles, membuat gw dengan sangat terpaksa ambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Yup, akhirnya gw deh yg jadi korban pertama harus mandi. Maklum kalo dirumah dan lg libur, semua juara males mandi.
Selesai mandi, gw ngintip ke kamar deon. Dua bocah itu masih asik cekikikan di depan laptop. Sambil jalan masuk ke kamar, gw teriak lagi.
"awas ya kalo kakak selesai pake baju, tapi kalian masih dikamar!!"
Sambil lalu, gw denger suara grabag grubug masuk kamar mandi. Dengan senyum kemenangan, gw msk kamar dan ganti baju.
Ga lama hp bunyi, ada sms masuk.
" gi, lo liburkan hari ini,temenin gw ke pasar baru dong. Gw jemput ya sekarang. Ine"
Ntar lg ya....
Rabu, 29 September 2010
tak ada otak dan nurani, pakai dengkul lah!

gelisah..
gelisah aku, aku gelisah.
mereka yang dulu tumpah darah dan nyawa nya untuk negeri yang bernama indonesia ini barangkali lebih gelisah.
anak negeri saling bertarung, melebihi pertarungan mereka yang dulu berjuang untuk merdeka.
anak negeri ini bersimbah darah,melebihi darah yang dicucurkan mereka yang dulu berjuang untuk bisa didengar dunia.
apa yang ada dibenak mereka yang berpikir dengan emosi. nyawa manusia seolah tak ada harga.
kepuasan apa yang di dapat dengan saling menumpas nyawa saudara negeri sendiri.
mereka diluar sana tertawa puas melihat kita. perlahan hancur, mereka tak perlu mengotori tangan dengan darah darah anak negeri, karena kita sendiri menjadi alat mereka.
terlalu basi jika berbicara indahnya perdamaian. terlalu basi berbicara tentramnya hidup berdampingan.
terlalu banyak teori untuk damai dan berdampingan ya?
manusia, dengar hati kecil,jernihkan otak, pakai otak kalian!!!, jika tak punya nurani.
pakai mata kalian jika tak punya nurani dan otak. lihat darah yang ditumpahkan, lihat nyawa yang dikorban? bisa mengembalikan yang sudah mati?? bisa memuaskan dendam mereka yang sudah lebih dulu mati?
tak selamanya kehilangan harus diimpaskan dengan kehilangan, tidak selamanya mata di bayar mata, nyawa di balas nyawa.
tak ada otak? pakai dengkul lah!!!
mereka yang berkepentingan, tertawa lebar melihat kita yang bodoh yang bersimpah darah.
mereka yang membayar, tertawa puas, tak sia sia , mengeluarkan uang.
pakai dengkul kalau tak punya otak dan nurani,
ampunn..
Selasa, 28 September 2010
Tidur selamanya,untuk bisa bersama denganmu

Menatap ombak yang saling berkejaran di kakiku. Setiap jejak langkah hilang di sapu ombak. Aku berjalan di sepanjang sisi pantai. Angin pantai yang segar dan mentari pagi menemani langkahku untuk bertemu dengan nya. Ia terlihat begitu sempurna di balik balutan kemeja tipis putihnya.
Tersenyum menatapku dengan tangan terkembang, seolah tak sabar merengkuhku ke dalam pelukannya.
Tapi perjalanan dari ujung pantai ini terasa begitu berat. Tak segampang itu juga aku menyerah, karena aku tau apa yang menantiku di sana. Dia yang aku cinta dengan segenap jiwa.
Perjalanan panjang itu berakhir sudah, selangkah lagi tanganku menggenggamnya. Kami akan menari bersama di bawah mentari, diantara deburan ombak , di atas hamparan pasir putih. Tak ada waktu yang terlewati dengan kesendirian.
Setiap detik terisi dengan cinta. Karena aku tahu hanya dia yang ingin kulihat saat mata ini terbuka di awal hari dan dia yang akan menemani saat mata ini tertutup di penghujung hari.
Tangan ini hanya ingin menyentuh setiap sudut wajahnya. Setiap lekuk di tubuhnya, setiap guratan di yang ada padanya.
Bibir ini hanya ingin mengecup dirinya, dan menyebut namanya. Tanpa henti, tanpa batas waktu dan ruang.
Tapi apa yang terjadi? Aku terjaga, ternyata tak mudah menemui nya di dunia nyata. Aku rela harus tidur selamanya, jika itu satu satunya cara agar aku bisa bersama denganmu.
Hidup, Rasa, Hati, Cinta, Mati dan Kembali.

Satu persatu mereka berlabuh, sementara aku belum juga memiliki sauh. Kemana kapal ini akan sandarkan. Badai di hamparan laut luas ini semakin keras dan kejam. Tapi aku masih mencoba bertahan. Walau tidak prima, tapi aku masih bisa bertahan.
Jangan sia siakan kesempatan yang pernah datang, aku membiarkan mu menunggu terlalu lama, hingga kau lelah. Dan sekarang di saat aku menyadari, cinta itu telah pergi dan merangkul bahagia lain. Turut berbahagia untuk kebahagiaan mu.
Membiarkan yang sejati hanya untuk bermain main dengan kesenan gan, bukanlah harga yang pantas. Akhirnya aku harus berlayar jauh entah kemana, entah dimana, entah kapan akan berlabuh. Tak ada sauh yang tersisa, tak ada tempat tersedia.
Bertahan dengan segenap kuasa yang ada, menentang matahari, melawan arah angin, menentang perputaran waktu. Entah lah, hidup dan mati apakah hanya akan berlalu di lautan luas. Menjadi umpan hiu, membakar diri di bawah matahari.
Akhirnya aku berdiri di haluan kapal, menerjang angin yang membelai wajahku, menghirup asinnya udara laut, membentang tangan membelah bayu dan matahari. Menyaksikan dari hari kehari matahari mendaki dan kembali sembunyi di balik garis laut. Dengan kapalku, hingga akhirnya hanya bisa terombang ambing, di tengah samudera. Hingga waktu mengikis, hingga asa satu persatu terbang, hingga nafas berhenti, hingga kembali ke dasar laut.
Karena akulah si pengelana, hidup, rasa, hati, cinta, mati dan kembali.
Rabu, 22 September 2010
ini tanpa akhir
Kapan terakhir kali anda menciumnya pake hati? Kapan terakhir kali berseri rasanya bangun di pagi hari. Kapan terakhir kali terasa begitu tanpa beban saat bersama.
Kapan terakhir kali bisa bercerita tanpa batas. Kapan terakhir kali bisa menangis dibahunya dan merasa tenang. Kapan terakhir kali memeluknya tanpa ada rasa takut kehilangan, karena yakin ia tak berpaling. Kapan terakhir kali merasa dunia takkan runtuh tanpa gravitasi. Kapan terakhir kali meluapkan emosi tanpa takut di tinggal dia. Kapan terakhir kali kau menciumnya dan tak ingin segera berakhir. Kapan terakhir kali kau bilang cinta dia. Kapan terakhir kali kau tak akan melihatnya lagi. Kapan terakhir kali kau sadar dia sudah tak disisi.
Aku terakhir kali masih mencintainya, dan ini tanpa akhir.
Kapan terakhir kali bisa bercerita tanpa batas. Kapan terakhir kali bisa menangis dibahunya dan merasa tenang. Kapan terakhir kali memeluknya tanpa ada rasa takut kehilangan, karena yakin ia tak berpaling. Kapan terakhir kali merasa dunia takkan runtuh tanpa gravitasi. Kapan terakhir kali meluapkan emosi tanpa takut di tinggal dia. Kapan terakhir kali kau menciumnya dan tak ingin segera berakhir. Kapan terakhir kali kau bilang cinta dia. Kapan terakhir kali kau tak akan melihatnya lagi. Kapan terakhir kali kau sadar dia sudah tak disisi.
Aku terakhir kali masih mencintainya, dan ini tanpa akhir.
Rabu, 15 September 2010
cinta oh

Aku coba bangkit, aku mencintai nya tanpa dia tahu.
Aku menyayanginya tanpa dia tahu.
Ini cinta tulus, tanpa dia tahu.
Aku ingin merasakan cinta lagi, setelah beku.
Tapi ia tak tahu.
Aku hanya akan menyimpan rasa ini dan menikmati sendiri.
Besar cintaku, tak hak harus memilikinya.
Aku akan mencintainya, sampai dia tahu.
Sampai aku tahu, bahwa tak ada cinta nya untukku.
Sampai aku tahu bahwa ia tidak mencintaiku.
Sampai aku tahu aku harus beku lagi. Lagi?
Minggu, 12 September 2010
Joni , sepuluh juta dan mati

Saya kembali terjaga dan menatap dari balik dunia cermin, tertampar, ada tulisan ini:
"Sebagai rasa simpati memberikan sumbangan sebesar Rp 10 juta rupiah," kata Kepala Biro Pers dan Media Istana Kepresidenan, DJ Nachrowi saat dihubungi detikcom, Jumat (10/9/2010). Dia menjelaskan, bahwa Joni meninggal bukan saat berada di dalam Kompleks Istana Kepresidenan. Tetapi saat tengah berada di depan kantor Setneg.”
Helooow mau di Kompleks Istana Kepresiden kek, mau di depan Kantor setneg kek!!! Joni malela mati!!! Sudahkan ini terdengar sedikit lebih keji? Mati. Sudahkah saya terkesan sedikit lebih keji dari pada mereka yang membiarkan orang cacat antre dengan ribuan orang lainnya untuk bersalaman di SBY?.
Bapak, Ibu, rakyatku Indonesia, kita akan di tertawakan orang lain, mati hanya sia sia. Tapi saya sejenak mencoba menempatkan diri sebagai warga yang antre dibalik pagar istana itu. Saya punya sejuta harapan di benak, jika bertemu presiden. Pak bantu kami si miskin, pak beri uang kami si miskin, pak biaya pendidikan jangan mahal mahal, pak harga beras dan minyak mencekik, pak kami tak mampu beli daging, pak makan ayam goreng adalah hidangan mewah yang setahun sekalipun belum tentu kami rasa.
Pak, ada berjuta tuntutan dari rakyat yang mendudukan anda, di dalam istana, dari mereka yang terpesona penampilan dan buai janji anda saat kampanye. Sudahkah sedikit anda tepati, sudahkah sedikit anda sejahterakan mereka. Joni tak akan buang nyawa nya sia sia, kalau saja orang cacat terperhatikan. Joni dan ribuan warga tak akan antre, kalau saja saat lebaran itu perut mereka terisi dan menikmati sepotong daging atau segenggam yang bukan nasi aking.
Rakyat anda miskin pak. Dan itu tidak sediki, harapan membuncah saat anda mengadakan open house yang hanya merupakan tradisi tahunan. Open house, yang setelahnya anda hanya merasa lelah, cuci tangan, istirahat tanpa membayangkan dengan apa rakyat itu akan pulang, apakah dirumah mereka masih ada makanan untuk satu dua hari mendatang.
Oya, tapi kami masih berterimakasih, ada sepuluh juta penyantun nyawa joni. Sepuluh juta, yang istri joni pun tak berani memegangnya sehingga dititipkan pada polisi.
"Uang santunan sudah dipegang ibu. Tapi karena takut tidak biasa pegang uang banyak jadinya dititipkan sama polisi," terang saksi mata dan orang yang menolong Joni di Istana Negara, Waiman saat ditemui di RSCM, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2010).”
Pak, bu , sudah ya, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, bersilaturahmi memang di ajarkan dalam agama, tapi tidak untuk mati sia sia dengan sepuluh juta, demi bertemu dengan orang yang belum tentu mengundang secara terbuka. Ini formalitas, ini tradisi lebaran, open house. Tak akan mendengarkan keluhan, dari tahun ketahun terjadi. Banyak mungkin yang didengar dari rakyat, tapi adakah yang berubah?
“Terkait dengan meninggalnya Pak Joni, Bapak Presiden sudah mendengar kabar tersebut. Bapak Presiden menyampaikan ucapan turut berduka kepada keluarga korban yang sedalam-dalamnya," kata Juru Bicara Presiden SBY, Julian Aldrin Pasha kepada detikcom, Jumat (10/9/2010). SBY sangat menghargai dan mengapresiasi keinginan dari almarhum Joni untuk bersilaturahmi. Meskipun, SBY tidak pernah mengundang secara langsung.
Tapi paling tidak Joni Malela lepas dari derita hidup yang ia jalani,tak perlu lagi antre tahun depan demi mengeluhkan beratnya hidup di negeri ini bagi si miskin, pak Joni. Istirahlah dalam damai. Terimakasih pak'e. Terimakasih juga untuk yang telah menggelar acara open house.
Selasa, 31 Agustus 2010
Aku tahu aku mencintaimu setelah aku mati

Hey malam, apa kabar. Lama tak menyapa. Ini artinya lama aku tak terluka dan tak jatuh cinta.
Dini hari juga masih saja sendiri, setia menemani ku. Pelan pelan disini mulai tertata. Malam, sebentar lagi aku mungkin tak akan mendampingimu lagi.
Sebentar lagi mungkin aku ingin kau berjalan lebih lambat. Karena aku ingin menikmati setiap detik bersamamu malam, yang ditemani dirinya. Bagaikan cinta edward kepada bella, gravitasi tak lagi alasan bersandar pada bumi. Tapi cintaku pada nya lah yang menjadi sandaran aku berpijak.
Malam , tidakkah kau rindu saat aku tersenyum lagi. Walaupun aku tahu senyum itu palsu, dan hanya sejenak saja. Tapi merasakan senyum tergaris kembali di wajah yang sudah keras menahun, rasanya tak terlalu buruk juga, malam.
Malam, kini setiap detik yang ku lalui tak ingin tersia sia. Aku ingin menikmati wajah nya yang tenang saat terlelap, menatap, raut tanpa cela itu. Aku ingin terjaga, agar bisa menyaksikan kedamaian saat ia terpejam. Aku ingin mengikuti setiap irama nafas dan detak jantung nya saat ia tak sadar bahwa aku ada menjaga lelapnya. Dan aku ingin terjaga,untuk menyapu air mata diujung mata indahnya. Air mata?
Malam, tapi aku tak bisa menyentuhnya dengan jariku yang penuh cinta. Aku panik, aku tak bisa merasakan nafasnya menyapu wajahku lagi. Setiap genggamku tak bisa menyentuh indahnya dia. Aku terlambat malam, aku terlambat mengatakan bahwa aku sangat menyintainya melebihi jiwa ku. Aku terlambat menyampaikan alasanku bertahan selama ini, yaitu cintanya. Aku terlambat menunjukkan bahwa diriku adalah bagian dirinya yang tak mungkin terpisahkan.
Kini aku hanya bisa menyaksikan tidurnya, tanpa bisa merasakan nafasnya, tanpa bisa menggenggamnya, tanpa bisa menyapu airmatanya yang terjatuh karena aku. Karena kematianku, karena kepergian. Aku mati malam. Dan aku terlambat mengatakan bahwa aku mencintainya, lebih dari cinta hawa pada adam.
Malam, aku ingin memutar kembali waktu sekali saja, dari ribuan hari yang telah berlalu, untuk mengatakan aku mencintanya malam.
Selasa, 27 Juli 2010
aku cintaku dan beku

Ini titik titik hujan yang jatuh, persis di hatiku yang beku.
aku beku menunggu cintamu
aku beku karena cintamu
aku beku melihatmu bercinta dengannya
aku beku saat kau kecup dia
aku beku saat kau bahagia menggenggamnya
Aku beku saat kau membangun mahligai dengannya
Aku beku saat kau memadu kasih dengannya
Tapi aku tak beku saat kau menangis karenanya
Aku tak beku saat kau terluka karenanya aku tak beku saat dia tinggalkanmu
aku tak beku saat kau ingin mati karena cinta nya tinggalkan mu
Aku masih ada menghangatkan mu
Aku masih ada utk mencintaimu
Aku masih ada mengajarkan mu berkasih lagi
Karena cintaku tak pernah beku untuk mu
Karena cintaku bagaikan bara untuk mu
Langganan:
Entri (Atom)


